Fort Rotterdam

Keluar dari Dermaga POPSA, saya dan suami menyeberang jalan. Mumpung udah dekat dan sekali jalan, kami mampir ke Fort Rotterdam. Kalau dari Pantai Losari jaraknya sekitar 200 meter. Gak jauh kan…

Fort Rotterdam tadinya bernama Benteng Ujungpandang. Dibangun tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-10, Tuni-pallangga Ulaweng. Benteng berbentuk kaya seekor penyu yang lagi merangkak, arah kepalanya menuju lautan.

gerbang Fort Rotterdam dan becak nongkrong

Bentuk benteng ini mengandung filosofi bahwa penyu bisa hidup di darat maupun di laut. Begitu pula putra-putra Kerajaan Gowa berjaya di daratan dan lautan. Hmmm…

Nama Benteng Ujungpandang diubah menjadi Fort Rotterdam setelah Belanda berhasil menguasai Kerajaan Gowa pada tahun 1667. Cornelis Speelman sengaja milih nama Rotterdam untuk mengenang daerah kelahirannya di Belanda. Huuh…, penjajah slalu begitu! (ya iyalah..)

Saat itu hanya benteng ini yang disisakan, benteng-benteng lain yang menjaga kekuatan kota di tepi laut telah dimusnahkan oleh Belanda. Fort Rotterdam kemudian menjadi pusat pemerintahan.

Banyak benda bersejarah bisa diliat di Fort Rotterdam. Referensi tiga kerajaan besar di Sulawesi Selatan nyaris utuh di benteng ini. Salah satu bagian dalam benteng yang menyimpan benda-benda itu adalah Museum La Galigo.

Di dalam Museum La Galigo tersimpan antara lain payung kebesaran raja, tombak, senjata tradisional prajurit kerajaan, dll. Ada pula artefak seperti tulang dan senjata tajam peninggalan manusia purba di Sulawesi Selatan.

penjara tempat Pangeran Diponegoro disekap

Bagian lain dari kompleks perbentengan ini adalah penjara jaman Belanda. Di sebuah ruangan itulah Pangeran Diponegoro pernah disekap pada tahun 1834. Ruangnya ada di paling pojok benteng dan paling lecek dengan sebuah kompresor AC nangkring disitu. Hihihi…

Dermaga Kayu Bangkoa, Dermaga POPSA, dan Pulau Khayangan

Dari Anjungan Bahari Pantai Losari, saya bisa leluasa memandang pulau-pulau kecil di tepi Selat Makassar. Pulau kecil itu nampak hidup. Ada banyak rumah berdiri di tepian pulau. Dan perahu kecil mondar-mandir merapat ke situ. Pulau apakah itu?

Dua diantaranya adalah Pulau Lae-Lae dan Pulau Khayangan. Pulau Lae-Lae adalah pulau yang dihuni para nelayan. Sedangkan Pulau Khayangan adalah salah satu pulau tujuan wisata, hasil pengelolaan pihak swasta dan pemkot Makassar.

Selain dua pulau di atas, masih ada sembilan pulau lainnya. Selain sebagai tujuan wisata, juga dijadikan tempat penelitian oleh para wisatawan dan ilmuwan, baik lokal maupun mancanegara.

Sembilan pulau ini adalah Pulau Barrang Lompo, Pulau Barrang Caddi, Pulau Kodingareng, Pulau Lumu’-Lumu’, Pulau Bone Tambung, Pulau Langkae, Pulau Samalona, Pulau Kodingareng Keke, dan Pulau Lanjukkang.

Kalau mau ke sembilan pulau ini, bisa menyeberang dengan kapal dari Dermaga Kayu Bangkoa. Dermaga terletak di Jalan Pasar Ikan. Diapit oleh Makassar Golden Hotel (MGH) dan Hotel Pantai Gapura.

Namun, pilihan saya jatuh pada Pulau Khayangan. Saya menyeberang ke Pulau Khayangan lewat Dermaga POPSA. Dermaga ini terletak di depan Fort Rotterdam. Sedikit lebih ke utara dari Dermaga Kayu Bangkoa.

Dermaga POPSA, tempat penyeberangan ke Pulau Khayangan

POPSA sendiri kependekan dari Persatuan Olah Raga Perahu Motor dan Ski Air. Selain sebagai dermaga penyeberangan, wisatawan bisa menyewa kapal fiber untuk snorkeling atau menyelam. Beberapa perahu kapal boat juga bisa disewa untuk memancing ke tengah laut. Dan yang seru nih, olah raga ski air. Kapan ya saya bisa nyoba main ski air… ;)

Cukup merogoh kocek 30 ribu per orang untuk membeli tiket menyeberang ke Pulau Khayangan (pulang balik). Loket ada di depan gerbang dermaga. Saya dan suami berlari-lari kecil di atas papan starway dermaga menuju kapal. Hanya kami yang belum naik kapal. Sekali angkut dijatah sepuluh sampai lima belas orang.

nyebrang ke Pulau Khayangan pake kapal kayu

Kapal kayu milik nelayan ini sengaja dipakai ngantar turis menyebrang. Suara mesinnya berderu keras. Satu mesin ada di tengah-tengah kapal. Pengemudi kapal berada di sisi samping mesin. Kapal kami bergandengan di belakang dengan kapal lain, mengangkut drum-drum air bersih. Perlahan tapi pasti, kapal melaju membelah laut. Asyik juga ya naik kapal menyeberang laut…

inilah Pulau Khayangan

Sekitar 40 menit kemudian kapal merapat ke Pulau Khayangan. Rumah yang berdiri di tepi pulau merupakan pondok penginapan. Ada yang bertembok batu, dan yang bertembok kayu berupa rumah panggung yang mengapung di atas laut. Pondoknya ada yang pake pendingin AC juga. Dibilang sederhana sih iya, tapi teman saya malah bilang kayak RSS (dengan S yang dipanjangkan). Haha..

Saat turun dari kapal, sepanjang starway dermaga sudah banyak orang yang lagi mancing. Sedangkan di laut, ibu-ibu dan anak-anak kecil berenang sambil bercanda. Ternyata ada Banana Boat juga di sini, lagi parkir di tepi pantai. Wah ini juga seru! Main Banana Boat rame-rame! Clingak-Clinguk…(sama siapa ya?)

Banana Boat, dermaga Pulau Khayangan, dan pemandangan kota Makassar

rumah payung kecil dan “dingklik” tempat duduk

Iseng-iseng saya dan suami berjalan mengitari Pulau Khayangan. Hanya sepuluh menitan kami udah selesai satu putaran. Lumayan lah, nambah jam terbang olah raga jalan kaki. Wueks, maksa banget, olah raga kurang niat nih…

Di tengah pulau ada rumah makan sekaligus tempat pertemuan. Kayaknya cocok buat pertemuan arisan. Sayang, saya gak tahu rasa makanan gimana. Di sampingnya ada taman dilengkapi rumah payung kecil dan tempat duduk. Dari sini pemandangannya laut lepas dan kapal-kapal.

Untuk pulang, kami ikut kapal kayu yang akan kembali ke Makassar. Lagi-lagi kami berlarian kecil di starway dermaga (*ketagihan*). Melambaikan tangan ke pengemudi kapal yang udah nglepas tali penambat. Penumpang lain udah duduk manis. Tunggu kami, dong!! Sebenarnya gak perlu kuatir, ada banyak kapal bolak-balik ke Pulau Khayangan. Kalau ketinggalan, tinggal naik kapal berikutnya… :)

Pantai Losari

Pantai Losari bisa dijadikan sebagai awal perjalanan menikmati wisata di Kota Daeng, julukan Kota Makassar. Letaknya di Jalan Penghibur. Terbentang dari selatan ke utara, dari Anjungan Bahari Pantai Losari sampai Makassar Golden Hotel (MGH). Pantai ini ditata sedemikian rupa hingga punya tanggul dan anjungan. Inilah landmark kota Makassar.

Selain panggung hiburan tempat artis menyanyi, konon akan dibangun istana presiden di Pantai Losari ini. Tiang-tiang menancap di pantai. Tanah mulai berdatangan untuk mengurug pantai. Air pantai akan disedot dibuang ke laut. Yup, masyarakat Makassar menyambut Jusuf Kalla sebagai presiden RI mendatang.

Tanggul Pantai Losari dipenuhi tenda-tenda penjual berbagai makanan khas Makassar. Ada pisang Epe, es pisang ijo, coto makassar, es pallubutung, dll. Anda akan mendapati suasana pantai yang berbeda di sini. Menikmati pantai sambil melahap panganan khas. Duduk di tanggul bercengkerama dengan keluarga. Digoda oleh angin laut sepoi-sepoi. Melepas penat sambil menikmati matahari terbenam.

tanggul Pantai Losari dan hotel mengapung (Makassar Golden Hotel)

tanggul Pantai Losari dimanfaatkan untuk memancing

Jika Anda tak mau berlama-lama di tanggul, Anjungan Bahari Pantai Losari bisa menjadi pilihan. Pantai direklamasi berbentuk setengah lingkaran menjorok ke laut. Berbahan keramik, lantainya bak playground, anak-anak kecil bermain sesukanya. Untuk sekedar kenang-kenangan, Anda bisa berfoto di setiap huruf “Pantai Losari” yang terpancang.

huruf "Losari"

huruf “Losari”…huruf “Pantai” gak kefoto, “T” nya lagi ga ada… :-p

matahari terbenam

Anjungan Bahari Pantai Losari dan matahari terbenam

Pas saya datang kali pertama di Pantai Losari ada sebuah huruf yang hilang, huruf “T” (Lihat lagi: Selamat Datang di Gerbang Indonesia Timur). Mungkin huruf-huruf ini ambruk. Sudah bosan menjadi sandaran orang-orang yang suka mejeng di depan kamera. Alias banci kamera. Seperti saya…Hahaha… :D

Dari Anjungan Bahari Pantai Losari ini pemandangan keseluruhan Selat Makassar dan kota Makassar di sepanjang pantai terlihat menarik. Memandang ke arah barat, Selat Makassar berwarna biru, kadang biru muda atau biru tua, dihiasi kapal-kapal yang sedang berlayar. Pandangan juga akan leluasa menjelajah pulau-pulau kecil di sekitar Selat Makassar.

Selat Makassar dan salah satu pulau kecilnya

Memandang ke arah timur, kota Makassar yang dihuni penduduk kurang lebih satu juta jiwa ini berdiri kokoh. Bangunan-bangunan yang menatap laut, berdiri tegar melawan badai laut Selat Makassar yang sesekali menyapa.

salah satu gedung di belakang kami, sebelah timur Pantai Losari

Omong-omong soal badai… Entah ini hanya perasaan saya saja, kadang di Makassar ada hujan deras dengan angin kencang, mirip badai. Hujan badai ini juga susah berhentinya. Bisa seharian sampai malam. Badai dari laut tak bisa dihindari kali ya, lha wong kota Makassar hanya sepanjang tiga kilo di sekitar pantai kog.

Soal udara panas, udah wajar lah karena berada di tepi pantai. Bulan Mei begini masih kadang hujan, kadang panas. Katanya, di puncak musim kemarau Makassar bakalan panas pol pollan. Well, gak sabar deh menanti musim kemarau, mau gimana lagi… Asalkan enggak nekat aja sengaja berjemur di bawah terik matahari… hhhh…

Jawa Asri

Kembali lagi ke Jawa Asri.. Karena kenangan pertama tak terlupakan..

Dari pagi hari saya udah ngerasa gak enak badan. Kayaknya masuk angin, pake mual-mual. Good Day Mocacinno tadi pagi mbludagh keluar perut lagi. Wah, jangan-jangan maag saya kambuh? Atau saya masih jetlag niy..?

Makan malam susah ditelan. Bandeng Presto Asli Jogja kesukaan saya rasanya hambar tuu.. Ooh, nafsu makan hilang entah kemana.. 

Obatnya adalah Rumah Makan Jawa Asri.. Hahaha..

Dasar, doyan jajan.. Hehehe..

Rumah Makan Jawa Asri ada di Jl. Sultan Hasanuddin No.22. Pemiliknya suami istri dari Jawa Timur. Sang istri saat ini lagi hamil. Karyawannya kebanyakan juga dari Jawa. Kalo tahu sesama orang Jawa, mereka ngajak ngomong Basa Jawa.. “Pesen pinten, Pak..Sampun telas..Nggih, Pak..”

Rumah Makan Jawa Asri

Satu porsi Sate Kambing ada sepuluh tusuk. Tiap tusuk terdiri dari lima potong daging kambing berukuran sedang. Di tengahnya diselipi gajih alias lemak daging kambing. Harganya enam belas ribu rupiah.

Terkenal enak karena setelah dibakar gak alot dan gak amis. Lemak daging kambingnya juga gak bau amis. Di sini gak pake sambal kacang. Cukup kecap manis aja yang dicampur irisan bawang merah, cabe rawit merah, dan tomat. Trus ditaburi merica bubuk.

sate kambing Jawa Asri

Nasi disajikan dalam piring datar. Dibentuk gunungan mangkuk. Satu porsi harganya tiga ribu rupiah. Saya pikir gak bakal habis kalo makan satu porsi. Hampir aja pesen setengah porsi. Nasi dalam gunungan tidak padat. Jadi gak bervolume banyak, gak bikin kenyang..

Daging kambing mengalir ke kepala saya. Hmmm, hangat, hidung sampai meler nih, hihihi.. Siapa mo coba sate kambing Jawa Asri? Ayo ke Makassar..

Selama di Makassar jarang sekali saya memesan Jus Alpukat kesukaan saya. Selain harganya mahal, saya udah bawa lima buah Alpukat dari rumah Jogja. Teh manis di sini berharga dua ribu rupiah. Sedangkan Jeruk Panas berharga lima ribu rupiah..

sate ayam Jawa Asri

Oiya, selain sate kambing, ada sate ayam juga. Satu porsi Sate Ayam berisi sepuluh tusuk. Harganya empat belas ribu rupiah. Sambal kacangnya lembut dan manis, pas di lidah saya..yummy.. :)

Suami saya nambah makan pake Pecel Lele dan Tempe Penyet. Tak ada yang istimewa dari cita rasanya. Hanya saja, Pecel Lele harganya delapan ribu rupiah. Dan Tempe Penyet berharga lima ribu lima ratus rupiah.

tempat makan pengunjung

Yang paling kesohor memang Sate Kambing dan Sate Ayam. Tapi ada juga menu lainnya loh.. Seperti rawon, pecel madiun, rujak petis, nasi campur, kari ayam, gado-gado, soto ayam, sayur asem, gule kambing, ayam goreng, lontong tahu telur, lontong campur.. dst..

Waks, kenyang.. :grin:

Gule Kepala Ikan di Ulu Juku

Welcome back, Makassar..

Saatnya jelajah dan wisata kuliner kembali..

Waktu itu perut saya sakit. Kembung masuk angin ditambah disminorhe. Atau karena lapar ya? Gak salah sih kalo mencoba mengisi perut. Apalagi udah saatnya makan siang. Kayaknya pas kalo pake yang berkuah dan panas-panas..

Asyiiik.. Akhirnya saya diajak suami ke Rumah Makan Ulu Juku..

Harga Irit, Rasa Selangit..*kata slogannya*

Kita mam di Ulu Juku kedua. Letaknya di Jl. A.P. Pettarani (depan Ramayana). Dari luar tampak kecil dan sepi. Ternyata dalamnya luas juga. Terkesan luas mungkin karena langit-langitnya tinggi. Bikin gak gerah sih apalagi ada kipas angin baling-baling di eternit.

Restoran Ulu Juku

suasana makan di Ulu Juku

Ada berbagai macam jenis gule kepala ikan kakap. Yang paling enak Pallumara. Harga satu porsi dua puluh tiga ribu rupiah. Terdiri atas tiga kepala ikan. Kuahnya berwarna kuning muda encer. Rasanya gurih, menurut saya malah asin banget. Di dalam kuah ada potongan daun bawang, wortel, bawang merah goreng, dan tomat.

Gule Kepala Ikan Pallumara

Nasi diletakkan dalam wakul anyaman bambu. Dilapisi daun pisang yang dibentuk segitiga pada ujungnya. Kita memesan nasi untuk tiga porsi. Saya, suami saya, dan pak Yusuf “Ucup” sang driver. Harganya tujuh ribu rupiah.

wakul nasi, trio sambal, dan kecap manis

Sambalnya ada tiga pilihan. Ada sambal mangga muda dan sambal tomat. Atau cukup ‘nyeplus’ cabe rawit merah aja biar pedas. Biar manis (bagi yang keasinan kayak saya) ditambah aja kecap manis..

Mengais-ais daging ikan kakap pada tulang kepala sungguh asyik. Ada yang terselip pada insang atau pojok kepala. Butuh nyesep-nyesep..nyedot maksudnya..supaya daging ikan terlepas dari tulang. Tulang belulang yang tersisa ditaruh di piring kecil.

selesai makan..

Di sini disediain mangkok kecil berisi air ‘kobokan’ untuk cuci tangan. Nah, kog volume air cuma sebuku jari tangan. Biasanya semangkuk penuh. Ya memang selama makan, jari saya yang kotor ternyata cuma sebuku. Dipakai pas ‘nyincing’ daging kepala ikan. Selebihnya saya memakai sendok karena ada kuahnya.. Ngirit air..?

Aaah, badan udah seger lagi. Sakit perut udah berkurang. Saatnya pulang, istirahat, merebahkan badan di kasur, kaki selonjor biar gak pegal..

Haah.. Habis makan trus tidur??? Kapan gemuknya???

Gigiku Tumbuh Lagi Nggak ya?

Masih ingat iklan pasta gigi yang dibawain Tasya Kamila?

"kalo gigi atas tanggal, giginya dibuang ke bawah (tanah)"
"supaya tumbuh lagi"
"kalo gigi bawah tanggal, giginya dibuang ke atas (atap)"
"supaya tumbuh lagi"

Saat itu Tasya Kamila digambarkan berusia 6 – 7 tahun, dimana proses pergantian gigi (dari gigi susu ke gigi permanen) sedang berlangsung. Kalo gigi susu Tasya tanggal, dalam waktu dekat akan tumbuh gigi penggantinya (gigi permanen). Sesudah itu gigi Tasya gak ganti lagi sampai tua.

Jika Tasya tua tiba-tiba giginya tanggal atau dicabut, maka akan ompong. Tapi Tasya gak usah kuatir giginya ompong. Kalo mo gigi yang baru bisa kog, bisa diganti dengan gigi tiruan…

Iklannya Tasya Kamila bisa dikatakan berhasil merebut hati banyak orang. Kalimat "gigi dibuang..supaya tumbuh lagi" mudah diingat. Apalagi Tasya Kamila sedang lucu-lucunya. Anak tetangga saya kerap menirukan celoteh iklan itu. Tapi kalo celoteh itu ditirukan oleh orang dewasa, hmmm, kayaknya jadi gak lucu deh.

Kejadian itu pas saya lagi ko-ass di bagian Bedah Mulut. Seperti biasa sebelum di-ACC kita harus mewawancarai pasien yang mo dicabut giginya. Mengisi lembaran kertas Rekam Medis tentang nama, usia, alamat, hobi..eh gak ding..sampai keluhan utamanya.. Hari itu saya menjadi semangat bekerja karena bu Gito* juga semangat giginya dicabut. (*=bukan nama asli)

<bu Gito> gigi depan udah goyah, mbak..

Gigi seri bu Gito udah gangren pulpa disertai kegoyahan derajat dua. Sambil saya wawancarai, bu Gito bercerita mulai dari masa mudanya, rumahnya, keluarganya, anaknya ada tiga, cucunya..

<bu Gito> aku 48 tahun, cucu dua..

Setelah dosen meng-ACC, boleh deh dicabut. Karena ada kegoyahan, gigi tinggal diputar sedikit trus ditarik keluar gusi. Setelah selesai, gigi cabutan tadi masih terjepit pada tang anterior yang saya pegang. Wah, udah gangren, bau busuknya menyengat, apalagi masih belepotan darah gini, buang aakh..pikir saya gitu.. Wadah sampah gigi cabutan sudah siap menerimanya. 

<bu Gito> jangan dibuang, mbak !

<saya> kenapa, bu ? (#kaget#)

<bu Gito> mau saya bawa pulang..

<saya> oh ? (#kaget yang tadi belum sembuh#)

Biasanya saya selalu menawarkan kepada pasien anak-anak untuk membawa pulang gigi cabutan. Selain membuat mereka senang, katakanlah itu sebuah ‘penghargaan’. Hasil keberanian mereka mencabutkan giginya.

Selain pasien anak-anak, pasien perawatan ortodonsia kerap membawa pulang gigi cabutan. Mereka bilang itu buat kenang-kenangan. Karena gigi cabutan mereka rata-rata masih utuh dan baik (tadinya hidup/vital).

<saya> ibu mau membawa pulang gigi ini ? kotor lho, bu..

<gigi> "aku kan mandi darah, hehehe."

<bu Gito> iya, saya bawa pulang, gpp kotor..

<saya> ini udah busuk lho, bu.. (saya tunjukin bagian yang berlubang besar)

<gigi> "ketauan deh bosok-ku.."

<bu Gito> masukin aja ke plastik ini, mbak.. (merogoh-rogoh isi tasnya dan menemukan kantong plastik kecil)

<saya> gigi busuk kayak gini nih ada kumannya, Bu, nanti malah mengotori rumah ibu lho.. (hehehe)

<gigi> "kuman mah ada dimana-mana, suka-suka kuman dongs.."

<bu Gito> aku jarang-jarang nyabutin gigi, mbak..

Ya iyalah jarang nyabutin gigi, Kalau bisa jangan deh kehilangan gigi ! Dicegah aja dengan rajin menggosok gigi (pake pasta gigi) minimal dua kali sehari, supaya gigi tidak berlubang dan busuk. Trus, kontrol rutin ke dokter gigi terdekat enam bulan sekali, supaya kalau ada gigi yang berlubang bisa segera ditambal..

Well, setidaknya saya udah kasi tau kalau gigi cabutan bosok itu gak berguna. Karena masih belepotan darah, saya bersihkan dengan air. Trus digosok pake kapas beralkohol. Kemudian saya bungkus pake kertas tissue sampai permukaan gigi gak keliatan. Weleh, gigi mati kog dikafani gitu! Hehehe (eh, gigi tuh ada juga lho yang di-Mumi). Sentuhan terakhir, dimasukkan ke dalam kantong plastik sesuai permintaan bu Gito.

<saya> nanti sampai rumah dibuang ke tempat sampah aja ya, Bu, jangan kelamaan disimpan di rumah.. mau buat apa to, Bu ?

<bu Gito> mau saya buang ke atas atap.. (sambil menggigit kapas)
          kan katanya, kalau gigi atas tanggal, dibuang ke atas atap..
          supaya tumbuh lagi..

<saya> #bengong#

Waduh, Bu, udah jaman sekarang masak masih mau percaya mitos itu.. dan lagipula Tasya Kamila nggak bilang gitu.. Yang betul : kalo gigi atas tanggal, giginya dibuang ke bawah (tanah) supaya tumbuh lagi.. Jadi Ibu kebalik tuh.. Kalo kebalik nglemparnya, mantranya gak jalan dong, ntar kalo giginya gak tumbuh lagi gimana dong ???

yaaa memang giginya Ibu bakalan Gak akan Tumbuh lagi..! :grin: :grin:

Seperdelapan Kota Palu

Bangun pagi di kota Palu, saya disodori nasi kuning oleh suami. Nasi KuningNasinya gurih dan lengket, santannya banyak. Sambal terasi berwarna hitam dibungkus terpisah, rasanya enak, pedas campur manis.

Nasi kuning di sini punya tiga macam ayam sebagai lauknya. Ada ayam pedas, berwarna merah kayak merahnya sosis. Trus ayam kari, rasanya gurih, berwarna kuning cerah. Dua-duanya potongan ayam. Sedangkan ayam kecap manis berupa suwiran daging ayam. Lauk lainnya berupa satu buah telur ayam.

Hmm, kenyang banget. Perut dah dicaz untuk menghabiskan waktu terakhir di Palu. Jam 10 pagi saya dijemput mbak Rini untuk mengitari kota Palu. Seberapa jauh ya berputar kota Palu yang mungil..

Kita mampir di Bakery & Cafetaria Golden. “Saya mo kasi liat Roti Kepang, ini rotinya Palu,” kata mbak Rini. Tokonya terletak di Jl. St. Hasanudin No.53, belakangnya Plaza Palu. Hmm, rotinya panjang dan empuk..

Masjid Al Khairaat

Pas saya pingin tahu masjid besar di Palu, kebetulan kita lewat masjid di sebuah pertigaan. Bukan masjid besar sih, tapi Masjid Al Khairaat adalah masjid tertua di Palu. Letaknya di Jl. Sis Al Jufri No.40. Dulu Al Jufri merupakan orang pertama yang menyiarkan Islam di Palu.

Kata mas Didin, Palu artinya Gayung. Menurut legenda, ada raksasa yang suka mandi pake gayung di danau di atas gunung. Air cipratan mandinya mengalir ke bawah, menjadi sungai yang membelah kota. Maka kota ini disebut Palu.

Sungai di tengah kota Palu ada empat. Di atasnya dibangung jembatan. Masing-masing dinamai sesuai nomor urut pembuatan jembatan. Ada jembatan Satu, Dua, Tiga, Empat. Jembatan Empat berada dekat Silae. Warnanya kuning, bentuknya kayak jembatan di Sungai Barito.

Suku yang utama berdiam di Palu adalah Suku Kaili. Mereka berbicara pake dialek yang mirip orang Manado. Selain Kaili ada pula suku Bugis, Makassar, dan transmigran lainnya.

Saya agak lupa, suku apa nih yang ada di gunung, yang suka nanam Bawang. Tanah dan iklim di gunung menyebabkan bawang di Palu khas sekali. Warnanya merah agak putih. Rasanya enak, gurih, krispi.. Belum pernah saya mam Bawang kayak gini di Jawa.

Toko Mustika

tokonya rumah panggung

Bawang Goreng khas Palu, salah satunya dijual di Toko Mustika di Jl. S. Lambangan No.5. Sebuah industri rumah tangga di dalam rumah panggung. Saya dan mbak Rini naik ke lantai dua. Lantai satunya khusus dapur, tempat mengupas, mengiris, dan menggoreng bawang.

Bawang Goreng

Selain itu, bisa dibeli di Toko Makmur Jaya. Terletak di Jl. Basuki Rahmat No. 94. Namanya Bawang Goreng Cap Maleo. Di toko ini, bawang goreng dibungkus dalam kantong plastik rapat. Lalu dikemas dalam box plastik mika. Terakhir, dimasukkan ke tas kertas. Trus ditenteng-tenteng dibawa pulang..

Bawang goreng bisa tahan lama. Tiga bulan juga awet. Bahkan Cap Maleo ada tulisan exp date yaitu Desember 2009. Tapi kalo udah dibuka, sebaiknya disimpan dalam wadah rapat. Toples bertutup rapat atau kedap udara. Selain ditaburkan bersama masakan, bawang juga enak kalo cuma digado. Sambil nonton TV nyamil Bawang..Krezz..

mbak Rini membelokkan mobil ke Maestro Pizza. Selain pizza dan pasta, ada Sop Buntut Tanpa Tulang. Nasi untuk sop dibentuk gunungan dengan daun pisang. Buntut daging sapi dipotong-potong dadu. Kuah sopnya berwarna hitam bercampur dengan potongan tomat, kubis, loncang. Trus krupuknya pake Emping.

Sop Buntut Tanpa Tulang

 

ini pizza ala Maestro di Paluspaghetti ala Maestro

Suasana restoran nyaman dan bersih. Pas jam makan siang, pengunjung mulai rame berdatangan. Kebanyakan orang kantoran.

Kayaknya cuma sampai di sini saya putar-putar Palu. Suami udah nelponin, kog saya gak nongol-nongol di Silae. Hehe.. Jam 1 siang saya harus berangkat ke bandara, pulang ke Makassar.. Makasih, mbak Rini..

Ayam Bakar Biromaru di rumah pak Deni

Ayam Bakar Biromaru terletak searah dengan Bandara Mutiara. Kalo buka hanya tiap Rabu dan Sabtu. Yah, klewatan dong, sekarang hari Senin malam. Untungnya bisa dipesan khusus sehingga malam ini kita bisa nyicipi. Biromaru berbau nama Jepang. Adakah sejarahnya? Setahu saya Palu gak pernah dijajah Jepang..

ayam bakar Biromaru

Ayamnya berjenis ayam kampung. Gigit.. dagingnya sedikit keras.. Kayaknya langsung dibakar, gak direbus dulu. Bumbunya bertekstur kasar, semacam kacang halus. Rasanya manis sedang, lebih terasa rempah-rempahnya.

Ayam ini dibawa ke rumah pak Deni di atas gunung. Dari rumah ini kita bisa melihat seluruh kota Palu. Kalo hari udah terang pasti pemandangannya bagus. Gunung, laut, dan kota terlihat jelas.

makan malam di rumah pak Deni

Selain Biromaru, ada pula sate ayam dan kupat sayur. Kupat sayurnya pake ayam juga, dimasukkan dalam kuah berwarna kuning muda. Kupatnya besar dan padat, ngambil satu bagi saya udah kenyang. Trus ditambah lauk telor rebus satu buah. Di Palu menu terhormatnya adalah Ayam, diolah jadi macam-macam masakan. Jangan harap menemukan Tempe.. :grin:

juara makan ayam

Sampai selesai makan malam, ayam Biromaru belum ludes juga. Tadinya ada dua piring besar berisi Biromaru. Siapa yang mau nambah lagi..?? Masih ada satu piring penuh lagi niih..

Main ke Palu, Sulawesi Tengah

Huhuhuhu..Delayed..

Baru jam 20 WITA kita berangkat pake Lion. Tiba di Palu satu jam kemudian. Bandaranya bernama Mutiara. Gak kayak namanya, sekarang dah gak ada mutiara di sini. Mungkin yang dimaksud mutiara adalah Bawang..

Sekilas info, kalo mo cari mutiara yang asli dan bagus, ada di Dobo. Lokasinya dekat Ambon. Kalo beli di Ambon tentu saja lebih mahal daripada Dobo ya.. (ya iyalah..!) Kata orang, mutiara asli tak sekedar berwarna hitam, putih. Kalo diamati ada coraknya, semburat warna kuning, orange, emas..

Bandara Mutiara sangat sederhana. Mirip Bandara Adisutjipto jaman bahuela. Lebih mirip sebagai bandara transit. Bandingkan aja dengan Bandara Frans Kaisiepo, Biak. Tapi tetap lebih bagus Mutiara daripada Biak kog..

bandara Frans Kaisiepo, Biak

bandara Mutiara, Palu

Setelah lama nunggu bagasi, kita cabut dari bandara. Saya dan suami naek mobilnya pak Salim. Di tengah jalan, rumah-rumah penduduk kliatan gelap gulita. “Di Palu nih lampu mati sudah biasa, jam hidup saja yang kita tahu..,” kata pak Salim. Kayak apa ya PLN di sini..?

Di daerah Silae ada Swiss-Bel Hotel. Masih baru, berdiri tahun kemarin. Hampir sama dengan Swiss-Bel di kota Jayapura, bangunan berada di tepi teluk. Jika dapat kamar pilihan, dari jendela bisa ngliat Teluk Palu.

teluk Palu di Silae

Ruang makan terletak di lantai satu yang langsung berbatasan dengan laut. Ada dinding kaca, sehingga kalo makan sambil ngliat pemandangan. Wuih, kacanya bikin ruangan panas juga ya. Kelamaan nongkrong disitu rasanya jadi silau..

silau..SILAU..silae..SILAE..

S I L A U…S I L A E…silau..silae..

lae..lau..lae..lau..

S i L a U e…

Pindah ke Sulawesi

Hujan rintik-rintik di pagi hari ini, mengiringi jalannya mobil kami. Lima kardus berada di mobil depan. Empat tas kopor berada di mobil belakang. Ada rasa senang, karena pindah dari Jayapura merupakan sebuah perubahan. Tapi ada pula rasa haru..

Sayonara Jayapura..

Pesawat Garuda berangkat dari Jayapura sekitar jam 8 pagi WIT. Sampai di Biak, kalo tak salah jam setengah 9 WIT. Berangkat lagi dari Biak, jam 9 lebih dikit. Dan tiba di Makassar kira-kira jam 12 WITA. Cargo kita pake pesawat berbeda, mungkin tiba di Makassar lebih sore.

Sampai di Makassar, kita diajak makan siang ama temen suami saya, pak Taufik. Makan siang di Warung Makan Jawa Asri, sate ayam dan sate kambing-nya terkenal paling enak. Setelah dibakar, dagingnya empuk dan gak bau amis. Harganya juga gak mahal amat. Satu porsi sate kambing berisi sepuluh tusuk, seharga enam belas ribu rupiah.

Sampai di warung, kenalan ama istrinya pak Taufik, mbak Fifi. Setelah ngobrol ngalor ngidul, mbak Fifi mengantar saya keliling Makassar. Sekilas lewat, dia memberi referensi tempat makan oke di Makassar. Kayaknya pak Taufik dan mbak Fifi kompak, punya hobi berwisata kuliner.

<Saya> Wah, gak hafal nih tempat makan yang seabrek gitu..Harus dicatat kali..mbak Fifi punya daftarnya gak..hehehe..

<mbak Fifi> Oh..aku lagi bikin website-nya..barengan sih ama temenku..mo dimulai besok Maret..

Pukul 3 sore WITA saya sampai di rumah mbak Fifi. Ada dua bocah kecil lucu yang menyambut kita. Yang lelaki berwajah bapaknya banget. Yang cewek menik-menik manis. Rambutnya keriting kriwil-kriwil. Keduanya berlatih speaking English setiap hari..

Jam 5 sore kita berangkat lagi ke Bandara Sultan Hasanuddin. Hmm, sekarang saya bakalan sering ke bandara ini ya, hahaha.. Kita ketemuan ma temen suami, pak Adenta dan pak Daniel dari Jakarta. Lengkaplah sudah rombongan berjumlah lima orang yang hendak pergi ke Palu, Sulawesi Tengah.

Eitss..Saya ngikut rombongan yaa.. ???

ya sudah laah..Ngikut ajaah..daripada saya terdampar sendirian di Makassar.. :grin: