Dua Kali Melahirkan dengan Air Ketuban Hijau

Saat melahirkan Arvinza Daris Rafisqy (Yogyakarta, 8 Januari 2011) dokter bilang kalo air ketubannya hijau encer (pecah di ruang bersalin) dan Arvin dibilang keracunan ketuban dengan hasil pemeriksaan indeks CRP positif. Waktu itu suster yang saya tanyai mengenai penyebab air ketuban hijau encer hanya menjawab, “Bayinya stres saat di dalam rahim sehingga berak saat masih dalam kandungan, beraknya itu mengotori air ketuban”.

—Janin stres akan mengalami kekurangan oksigen. Hal ini menyebabkan meningkatnya gerakan usus dan melemahnya sfingter ani (otot anus) sehingga janin mengeluarkan mekonium yang kemudian bercampur dengan cairan ketuban (amnion). Mekonium merupakan kotoran atau feses pertama bayi, berwarna hijau, kental dan lengket yang seharusnya dikeluarkan bayi di beberapa hari pertama kehidupannya. Nah, jika mekonium dikeluarkan menjelang persalinan dan bercampur dengan cairan ketuban maka cairan ketuban menjadi tercemar, yang tadinya jernih dan licin berubah menjadi hijau keruh. Cairan inilah yang bersifat beracun bila terhirup oleh janin di saat kepala bayi keluar dari rahim ibu.—

Lalu saat melahirkan Ahmad Hanif Rafisqy (Jakarta, 21 Desember 2012), begitu air ketuban pecah saat di dalam ruang bersalin, suami saya disuruh menyaksikan oleh suster, disuruh ngeliat, “Ini Pak, air ketubannya hijau ya”. Tak lama setelah persalinan selesai, baby Hanif diobservasi. Saya masih bertanya-tanya kenapa air ketubannya bisa hijau? Suster balik bertanya, “Pas hamil, apakah ibu sakit?” Saya bilang, sakit batuk (sepanjang hamil penyakit batuk alergi sulit sembuh). Kemudian dua suster yang masih menemani saya malah berdiskusi, “Apa karena proses persalinannya cepat ya?” Baby Hanif memang cepat lahir, dari bukaan 3 sampai lahir, gak ada 2 jam lamanya (jam 17.00 – jam 18.53). Dan saya melaluinya secara normal, tanpa obat penghilang rasa sakit. Kebayang gak peningkatan rasa sakitnya kayak apa? ^_^

—Sebenarnya mekonium yang dikeluarkan janin itu umum terjadi. Mulai terjadi pada usia gestasi 15 minggu. Namun angka kejadiannya berkurang seiring dengan meningkatnya usia gestasi dan frekuensinya sangat berkurang saat usia gestasi menginjak 34 minggu. Kasus cairan ketuban yang mengandung mekonium atau meconium staining amniotic fluid terjadi pada 5–24 persen kehamilan normal. Bercampurnya mekonium dengan amnion, bisa terjadi karena beberapa faktor antara lain kehamilan yang telah melewati usia 9 bulan, kecil masa kehamilan, distres pada janin, insufisiensi plasenta, dan tertekannya tali pusat. Bisa juga disebabkan sang ibu menderita diabetes melitus, penyakit jantung atau hipertensi.—

Tapi faktanya, Arvin lahir di usia kehamilan 37 minggu sedangkan Hanif 38 minggu. Pemeriksaan darah saya selama hamil pun hasilnya baik-baik saja, tidak menderita penyakit apapun. Ketika masih hamil Hanif, saya pernah curhat kepada obgyn tentang air ketuban hijau encer pada proses kelahiran anak pertama Arvinza. Saya bertanya, gimana sich Dok caranya supaya air ketuban gak hijau. Obgyn hanya bilang, “Harus rajin kontrol”. Kalo rajin kontrol ya memang sudah tentu laah. Saya tidak mau kejadian Arvin keracunan air ketuban terulang lagi pada Hanif. Tapi ternyata air ketuban anak kedua saya Hanif tetap hijau encer, walo indeks CRP-nya normal (pada batas minimal).

—Bagaimana agar janin atau bayi tidak keracunan mekonium? Pencegahan yang dapat dilakukan oleh ibu hamil adalah menghindari stres, utamanya menjelang persalinan. Ibu yang sedang hamil dan menjelang persalinan sebaiknya selalu menjaga kesehatan agar tetap optimal dan segera menghindari stres. Pasalnya, semua itu bisa berpengaruh pada si calon bayi. Kehidupan bayi dalam kandungan sangat dipengaruhi oleh kondisi ibu, utamanya pada saat menjelang persalinan. Bila kondisi ibu tidak optimal atau sakit maka kondisi janin pun tidak optimal sehingga membuat janin menjadi stres. Cobalah untuk berpikir positif selama kehamilan untuk menghindari tekanan psikologis. Setelah itu kenali apakah denyut jantung janin mengalami percepatan dan keluarnya air ketuban yang berwarna hijau encer. Jika hal tersebut terjadi, maka proses persalinan harus segera dilakukan. Sebab, semakin lama proses persalinan ditunda, akan semakin banyak amnion yang telah bercampur mekonium tertelan oleh janin. Akibatnya, janin akan semakin kesulitan bernapas dan semakin merusak jaringan paru-parunya.—

Nah tentang ibu hamil stres ini masih jadi misteri. Pola hidup saya sehat, olahraga, aktifitas atau makan tergolong wajar-wajar saja. Not working mom, but full time mother. Kalo ditanya ke suami saya, apakah saya stres, suami saya akan balik bertanya, “Apakah saya stres?” Muter-muter dunk. Intinya stres itu tidak terlihat, kata suami saya. Apa yang bisa saya pahami adalah, pada saat proses melahirkan, rasa sakit pada menit-menit pembukaan harus dikelola dengan baik. Karena menahan rasa sakit saat proses persalinan adalah usaha yang luar biasa. Sekarang banyak kelas Senam Hamil, Yoga Hamil, atau Hypnobirthing yang mengajarkan cara mengelola rasa sakit yang baik. Atau jika ingin tanpa rasa sakit yang tak alami yaa memakai obat penghilang rasa sakit saat proses persalinan ^_^.

“Dolanane dokter M,” gitu kata ibu saya ketika menceritakan apa yang dilihat saat Arvin keluar dari rahim ^_^. Saat itu Arvin ‘dicincing’ sama dokternya, kepala di bawah, kedua kaki di atas-dipegang tangan kanan dokternya, lalu tangan kiri dokternya menepuk-nepuk pipi Arvin, supaya mau menangis. Kemudian hidung Arvin dimasuki selang, disedot, dibersihkan, tak lama kemudian barulah terdengar tangis Arvin yang nyaring panjang. Karena hasil pemeriksaan indeks CRP-nya positif, baby Arvin diobati dengan antibiotik. Waktu itu baby Arvin gak ditempatkan di ruang isolasi, tetap di ruang yang sama dengan bayi sehat lainnya. Hari kelima di RS, baby Arvin baru dinyatakan normal indeks CRP-nya. Kalo baby Hanif, sudah nangis sich begitu ceprot lahir walo ihikihik tersendat-sendat. Trus saya dekap sebentar sambil dokternya mengeluarkan ari-ari. Habis itu disedot, sama dengan Arvin, tangis keras panjang barulah terdengar. Kemudian baby Hanif dibawa ke ruang bayi untuk dihangatkan badannya dengan sinar. Suster bilang, “Tes APGAR-nya bagus kog Bu.” Indeks CRP-nya normal jadi gak diobati antibiotik. Walo sama-sama air ketubannya hijau, waktu itu feeling saya yakin kalo kondisi baby Hanif lebih baik dari kondisi baby Arvin dulu. Baby Hanif cuma dua hari di RS sudah boleh pulang bersama bundanya.

—Jika Anda menemui kondisi bayi yang bermasalah dengan air ketuban, jangan lantas menjadi panik. Peran dokter, tempat Anda melahirkan akan sangat besar. Penanganan pihak RS yang cepat dan tepat akan menyelesaikan permasalahan air ketuban tersebut. Mungkin Anda sebagai ibu hamil atau suami perlu juga mengetahui langkah-langkah yang dilakukan dokter untuk mengantisipasi hal tersebut. Dokter akan segera melakukan penyedotan cairan yang terdapat pada saluran pernafasan, termasuk trakea, yaitu saluran antara tenggorokan dan jaringan paru-paru. Kemudian, bayi akan diberi bantuan oksigen untuk pernafasan. Bahkan mungkin akan dilakukan pemasangan alat bantu pernafasan (ventilator). Selanjutnya, akan dilakukan pemberian antibiotik jika dinilai bayi mengalami infeksi. Akan dilakukan pemantauan kesehatan bayi dari tes APGAR. Untuk melakukan pengecekan suplai oksigen, cukup atau tidak, dokter akan melakukan blood gas analysis. Setelah dibersihkan dan dikeringkan, bayi akan dimasukkan ke inkubator untuk menjaga suhu tubuhnya. Biasanya, bayi akan diletakkan pada tempat terpisah, supaya mencegah terjadi penularan akibat infeksi.—

Dua kali melahirkan dengan air ketuban hijau, membuat saya bertekad… he he he… bertekad untuk LIBUR dari dunia perhamilan dan dunia melahirkan *nyengir*. Sudah bersyukur dua anak ini selamat sehat. Gak kebayang kalo kondisi pernafasannya lebih bermasalah dari ini. Membesarkan mereka berdua (yang notabene jaraknya dekat, dua tahun kurang dua minggu) menjadi fokus ke depan (kasihan masih kecil-kecil boo’) ~^_^v ♥♥Arvin&Hanif♥♥

8 Tanggapan

  1. Thanks ya bund infonya kondisi anak ibu yg pertama mirip bgt sm anak saya ahmad yg lahir 17 april 2013.

  2. ketuban sy jg sdh hijau lumpur wktu mlahirkn tgl 31 mei 2012 dan ankku afham cm brthn beberapa mnit ddunia,sdhnya amp skg ak blm hamil lg

  3. Ada yang bilang raikal, keracunan air ketuban sehingga merusak sistem pencernaannya.tp, dr tidak menyatakan hal tsb. Dy hanya bertahan 19 hari, setelah muntah trus menerus stelah minum susu.

  4. Sama bu, wktu melahirkan, kata bidan : air ketuban sy hijau, n anak sy tidak selamat.

  5. Maaf mba saya mau ty bagaimana perkembangan 2 anak mba apa baik2 saja tidak mengalami hambatan apaun termasuk lambat bicara atau lambat tumbuh gigi dan jalan tks

  6. Sama banget mba, anak k 2 ku lahir dengan ketuban super hijau n kental tp اَلْحَمْدُلِلّهِ رَبِّ العَا لَمِيْنَ anaku sampai sekarang sehat n bidan bilang gk knapa2 اَلْحَمْدُلِلّهِ رَبِّ العَا لَمِيْنَ

  7. berapa kadarnya (mg/L) waktu itu bun….?

  8. anaku skg umur 3th.dulu aku jg ketuban hijau.beratnya2,2kg,dan kondisi bayi kuning.kmdian harus menjalani penyina
    ran.dan sedihnya lg bayiku didiagnosa jantungnya bocor.dengan asi yg bagus alhamdulillah sampe skg tumbuh jd anak sehat,aktif.dan skg ak lg hamil anak kedua,,ada rasa khawatir kejadian anak pertama terulang lg.doain ya bunda2..smg bayiku ini sehat..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: