35

Dua Kali Melahirkan dengan Air Ketuban Hijau

Saat melahirkan Arvinza Daris Rafisqy (Yogyakarta, 8 Januari 2011) dokter bilang kalo air ketubannya hijau encer (pecah di ruang bersalin) dan Arvin dibilang keracunan ketuban dengan hasil pemeriksaan indeks CRP positif. Waktu itu suster yang saya tanyai mengenai penyebab air ketuban hijau encer hanya menjawab, “Bayinya stres saat di dalam rahim sehingga berak saat masih dalam kandungan, beraknya itu mengotori air ketuban”.

—Janin stres akan mengalami kekurangan oksigen. Hal ini menyebabkan meningkatnya gerakan usus dan melemahnya sfingter ani (otot anus) sehingga janin mengeluarkan mekonium yang kemudian bercampur dengan cairan ketuban (amnion). Mekonium merupakan kotoran atau feses pertama bayi, berwarna hijau, kental dan lengket yang seharusnya dikeluarkan bayi di beberapa hari pertama kehidupannya. Nah, jika mekonium dikeluarkan menjelang persalinan dan bercampur dengan cairan ketuban maka cairan ketuban menjadi tercemar, yang tadinya jernih dan licin berubah menjadi hijau keruh. Cairan inilah yang bersifat beracun bila terhirup oleh janin di saat kepala bayi keluar dari rahim ibu.—

Lalu saat melahirkan Ahmad Hanif Rafisqy (Jakarta, 21 Desember 2012), begitu air ketuban pecah saat di dalam ruang bersalin, suami saya disuruh menyaksikan oleh suster, disuruh ngeliat, “Ini Pak, air ketubannya hijau ya”. Tak lama setelah persalinan selesai, baby Hanif diobservasi. Saya masih bertanya-tanya kenapa air ketubannya bisa hijau? Suster balik bertanya, “Pas hamil, apakah ibu sakit?” Saya bilang, sakit batuk (sepanjang hamil penyakit batuk alergi sulit sembuh). Kemudian dua suster yang masih menemani saya malah berdiskusi, “Apa karena proses persalinannya cepat ya?” Baby Hanif memang cepat lahir, dari bukaan 3 sampai lahir, gak ada 2 jam lamanya (jam 17.00 – jam 18.53). Dan saya melaluinya secara normal, tanpa obat penghilang rasa sakit. Kebayang gak peningkatan rasa sakitnya kayak apa? ^_^

—Sebenarnya mekonium yang dikeluarkan janin itu umum terjadi. Mulai terjadi pada usia gestasi 15 minggu. Namun angka kejadiannya berkurang seiring dengan meningkatnya usia gestasi dan frekuensinya sangat berkurang saat usia gestasi menginjak 34 minggu. Kasus cairan ketuban yang mengandung mekonium atau meconium staining amniotic fluid terjadi pada 5–24 persen kehamilan normal. Bercampurnya mekonium dengan amnion, bisa terjadi karena beberapa faktor antara lain kehamilan yang telah melewati usia 9 bulan, kecil masa kehamilan, distres pada janin, insufisiensi plasenta, dan tertekannya tali pusat. Bisa juga disebabkan sang ibu menderita diabetes melitus, penyakit jantung atau hipertensi.—

Tapi faktanya, Arvin lahir di usia kehamilan 37 minggu sedangkan Hanif 38 minggu. Pemeriksaan darah saya selama hamil pun hasilnya baik-baik saja, tidak menderita penyakit apapun. Ketika masih hamil Hanif, saya pernah curhat kepada obgyn tentang air ketuban hijau encer pada proses kelahiran anak pertama Arvinza. Saya bertanya, gimana sich Dok caranya supaya air ketuban gak hijau. Obgyn hanya bilang, “Harus rajin kontrol”. Kalo rajin kontrol ya memang sudah tentu laah. Saya tidak mau kejadian Arvin keracunan air ketuban terulang lagi pada Hanif. Tapi ternyata air ketuban anak kedua saya Hanif tetap hijau encer, walo indeks CRP-nya normal (pada batas minimal).

—Bagaimana agar janin atau bayi tidak keracunan mekonium? Pencegahan yang dapat dilakukan oleh ibu hamil adalah menghindari stres, utamanya menjelang persalinan. Ibu yang sedang hamil dan menjelang persalinan sebaiknya selalu menjaga kesehatan agar tetap optimal dan segera menghindari stres. Pasalnya, semua itu bisa berpengaruh pada si calon bayi. Kehidupan bayi dalam kandungan sangat dipengaruhi oleh kondisi ibu, utamanya pada saat menjelang persalinan. Bila kondisi ibu tidak optimal atau sakit maka kondisi janin pun tidak optimal sehingga membuat janin menjadi stres. Cobalah untuk berpikir positif selama kehamilan untuk menghindari tekanan psikologis. Setelah itu kenali apakah denyut jantung janin mengalami percepatan dan keluarnya air ketuban yang berwarna hijau encer. Jika hal tersebut terjadi, maka proses persalinan harus segera dilakukan. Sebab, semakin lama proses persalinan ditunda, akan semakin banyak amnion yang telah bercampur mekonium tertelan oleh janin. Akibatnya, janin akan semakin kesulitan bernapas dan semakin merusak jaringan paru-parunya.—

Nah tentang ibu hamil stres ini masih jadi misteri. Pola hidup saya sehat, olahraga, aktifitas atau makan tergolong wajar-wajar saja. Not working mom, but full time mother. Kalo ditanya ke suami saya, apakah saya stres, suami saya akan balik bertanya, “Apakah saya stres?” Muter-muter dunk. Intinya stres itu tidak terlihat, kata suami saya. Apa yang bisa saya pahami adalah, pada saat proses melahirkan, rasa sakit pada menit-menit pembukaan harus dikelola dengan baik. Karena menahan rasa sakit saat proses persalinan adalah usaha yang luar biasa. Sekarang banyak kelas Senam Hamil, Yoga Hamil, atau Hypnobirthing yang mengajarkan cara mengelola rasa sakit yang baik. Atau jika ingin tanpa rasa sakit yang tak alami yaa memakai obat penghilang rasa sakit saat proses persalinan ^_^.

“Dolanane dokter M,” gitu kata ibu saya ketika menceritakan apa yang dilihat saat Arvin keluar dari rahim ^_^. Saat itu Arvin ‘dicincing’ sama dokternya, kepala di bawah, kedua kaki di atas-dipegang tangan kanan dokternya, lalu tangan kiri dokternya menepuk-nepuk pipi Arvin, supaya mau menangis. Kemudian hidung Arvin dimasuki selang, disedot, dibersihkan, tak lama kemudian barulah terdengar tangis Arvin yang nyaring panjang. Karena hasil pemeriksaan indeks CRP-nya positif, baby Arvin diobati dengan antibiotik. Waktu itu baby Arvin gak ditempatkan di ruang isolasi, tetap di ruang yang sama dengan bayi sehat lainnya. Hari kelima di RS, baby Arvin baru dinyatakan normal indeks CRP-nya. Kalo baby Hanif, sudah nangis sich begitu ceprot lahir walo ihikihik tersendat-sendat. Trus saya dekap sebentar sambil dokternya mengeluarkan ari-ari. Habis itu disedot, sama dengan Arvin, tangis keras panjang barulah terdengar. Kemudian baby Hanif dibawa ke ruang bayi untuk dihangatkan badannya dengan sinar. Suster bilang, “Tes APGAR-nya bagus kog Bu.” Indeks CRP-nya normal jadi gak diobati antibiotik. Walo sama-sama air ketubannya hijau, waktu itu feeling saya yakin kalo kondisi baby Hanif lebih baik dari kondisi baby Arvin dulu. Baby Hanif cuma dua hari di RS sudah boleh pulang bersama bundanya.

—Jika Anda menemui kondisi bayi yang bermasalah dengan air ketuban, jangan lantas menjadi panik. Peran dokter, tempat Anda melahirkan akan sangat besar. Penanganan pihak RS yang cepat dan tepat akan menyelesaikan permasalahan air ketuban tersebut. Mungkin Anda sebagai ibu hamil atau suami perlu juga mengetahui langkah-langkah yang dilakukan dokter untuk mengantisipasi hal tersebut. Dokter akan segera melakukan penyedotan cairan yang terdapat pada saluran pernafasan, termasuk trakea, yaitu saluran antara tenggorokan dan jaringan paru-paru. Kemudian, bayi akan diberi bantuan oksigen untuk pernafasan. Bahkan mungkin akan dilakukan pemasangan alat bantu pernafasan (ventilator). Selanjutnya, akan dilakukan pemberian antibiotik jika dinilai bayi mengalami infeksi. Akan dilakukan pemantauan kesehatan bayi dari tes APGAR. Untuk melakukan pengecekan suplai oksigen, cukup atau tidak, dokter akan melakukan blood gas analysis. Setelah dibersihkan dan dikeringkan, bayi akan dimasukkan ke inkubator untuk menjaga suhu tubuhnya. Biasanya, bayi akan diletakkan pada tempat terpisah, supaya mencegah terjadi penularan akibat infeksi.—

Dua kali melahirkan dengan air ketuban hijau, membuat saya bertekad… he he he… bertekad untuk LIBUR dari dunia perhamilan dan dunia melahirkan *nyengir*. Sudah bersyukur dua anak ini selamat sehat. Gak kebayang kalo kondisi pernafasannya lebih bermasalah dari ini. Membesarkan mereka berdua (yang notabene jaraknya dekat, dua tahun kurang dua minggu) menjadi fokus ke depan (kasihan masih kecil-kecil boo’) ~^_^v ♥♥Arvin&Hanif♥♥

1

Lucu Kalo Keinget…

•I don’t Like the Doctor•
Pas ketahuan hamil, saya mencari obgyn yang recomended di RS dekat rumah. Ada seorang tetangga yang melahirkan dengan obgyn R. Konon dokter R ini yang membantu persalinan artis MS, istrinya orang terkenal di bumi Indonesia. Okelah saya coba sama dokter perempuan ini. Waktu itu saya sekalian konsultasi nursing while pregnant, saya pingin tetap menyusui Arvin walo hamil. Pelajaran penting, carilah obgyn yang Pro ASI ketika berhadapan dengan masalah nursing while pregnant dan tandem nursing. Karena ternyata dokter R ini melarang dengan tegas nursing while pregnant. Udah gitu dia menghakimi saya sebagai seorang tenaga kesehatan, prikitiwww. Ampun deh, gak mau saya sama dia, bisa2 tiap kali kontrol kehamilan gak bisa ketawa ketiwi. Bete habis saya sama dia. Sensi banget saya sama dia. He he. Saya kabur ke obgyn DJ, dokter laki2, senior, ahli kesuburan (yang mengingatkan saya dengan obgynnya Arvin, mereka selevel gituu). Yang bikin nyambung nich karena istrinya dokter DJ sealumni dengan saya. Dan dokter DJ memberi hak kepada saya untuk memutuskan sendiri apakah akan tetap nursing while pregnant atau tidak ^_^. Apesnya, pas hari dan jam persalinan saya, kota Jakarta sedang banjir dan macet luar biasa menjelang very long weekend Natal. Dokter DJ terjebak macet. Saya pasrah menerima dokter pengganti. And guess what, dokter pengganti itu adalah dokter R! Ha ha ha. Mau terbahak-bahak gondok tapi kog lagi kesakitan kontraksi-tergeletak di ruang bersalin yaa…? Semoga dokter R tidak ingat saya! Hi hi hi. Mungkin memang kehendak Tuhan begitu. Gak nyangka, saya merasakan kenikmatan ditolong oleh dia. Dokter R sangat halus ketika menolong persalinan, baik dari tindakan dan kata2 ketika memotivasi saya mengejan. Dokter R juga cermat ketika melihat baby Hanif nafasnya tidak smooth saat IMD. Ohh ternyata dokter R enak juga ya? “Ya memang, tuuh kan apa kataku” balas tetangga saya. Sejak melahirkan sampai sekarang saya belum pernah bertemu kembali dengan dokter R.

•Lama Amat Taksinya! Hiks•
Setelah Dhuhur saya coba BBM suami karena rasa sakit meningkat pada kontraksi. Buka contact profile suami malah kaget. Tumben pasang status “sibuk”, baru kali ini suami saya pasang status gitu. “Sibuk – Lagi Training” Kog bisa sich di masa genting begini sulit dihubungi. Senewen, iya. Takut ganggu suami, juga iya. Hampir jam 2 siang, saya udah panik ketik2 BBM. “Serius, Serius, Cepetan pulang, Sekarang, Biar gak kena macet, Ini hari Jumat”. Suami saya cabut dari kantor jam setengah 3 sore dan tetep terjebak macet (di sekitar Tugu Tani). Tadinya pingin diantar suami ke RS. Karena macet gak tau kapan terurai, diputuskan saya naik taksi, ntar ketemuan di RS. Sbenernya jarak rumah ke RS deket, tapiii taksinya kog gak datang2. Saya dah galau, mau cegat taksi sendiri di depan cluster tapi kog hujan, coz pesan Blue Bird by phone gak sambung2. Suami saya yang memesan taksi via internet, melacak si taksi. Ya ampunn, ini taksi titik keberadaannya zig zag amat! Dia malah belok ke arah Sudimara. Setelah balik arah, kebablasan belok ke Sekolah Global arah Graha Raya. Taksinya nyasar!!! Pantesan ditunggu kog gak datang2 padahal dah dikasi tau kalo saya mau melahirkan. Finally, saya berhasil mendarat di RS sekitar hampir jam 5 dengan taksi tersebut dengan lama perjalanan 15 menit. Masih keinget wajah gugup pak sopir. Masih keinget juga nama sopir taksinya Pak Ahmadi ^-^

•Ada Nasi di Mulut Saya•
Di ruang bersalin, enggak ada 2 jam lamanya Hanif udah lahir. Sempat saya sendirian di dalam ruang bersalin. Pas suami belum datang dari kantor, dan saat suami pergi ngantar Arvin pulang. Jadi ketika makanan+minuman datang saya bingung mau mulai, gimana caranya masukin ke mulut. Posisi baring saya miring ke kiri, gak mungkin dipake terlentang karena sakit, jarak antar kontraksi di bawah 5 menit. Suster kog ragu sich mau nyuapi saya?? Alhasil acara makan disuapi suami jadi tergesa2. “Ayo cepetan keburu bayi lahir, aku laparr sangaaat.” Bahkan baru masuk mulut belum sempat nelan sang kontraksi udah datang. Sambil berusaha makan, suster masuk untuk ngecek bukaan. Mendadak pyarrr, ketuban pecah. Acara makan berhenti. Dan walaaaa saat mengejan masih ada nasi di mulut saya yang belum tertelan! Ahh nyesel banget cuma dapet beberapa suap, soalnya lauknya nonjok, biasa kan menu untuk ibu melahirkan manteb banget, mana saya masih lapar pas keluar dari ruang bersalin. Dipindah ke kamar, saya minta suster untuk ambil unfinished dinner tadi, tapi sayangnya udah ilang diberesin… Elus2 perut, lapar… Jatahku oh jatahku… hu hu huu… (-_-)

0

Perjalanan Menuju Kelahiran Hanif

•Selasa 18 Desember 2012•
Saya mulai ngerasa ada yang beda pada perut. Kog ada kencang2nya. Jaraknya antar perut kencang satu dengan yang lainnya masih gak teratur, tapi ada yang berjarak dekat, di bawah 10 menit. Hari itu suami saya dinas ke Surabaya, katanya gak nginap, pp aja, pagi pergi sore pulang. Mulai minggu ini suami saya jadi suami siaga, coz kehamilan saya sudah masuk 38 minggu. Ketika sore hari suami mendarat di Jakarta saya curhat dengan keadaan ini. Karena gak ada tanda lain misalnya pendarahan atau air ketuban rembes/pecah, udah gitu gak ada ngeflek jadi dengan pede saya ngerasa tenang. So malam harinya kami semua tidur pulas di rumah.

•Rabu 19 Desember 2012•
Ada perubahan yang saya rasakan, kencang perut diikuti rasa tekan pada *maaf* dubur, dua kali aja saat sore hari, pas saya lagi duduk santai dan saat sholat. Kemudian kaki saya dua2nya mendadak pegal dan gemetaran, padahal gak habis aktifitas. Trus mendadak kaki kanan saya bengkak. Deg2an luar biasa, saya minta suami untuk mengantar ke obgyn, takut salah, soalnya pas anak pertama gak kayak gini rasanya. Dan wowww, ternyata udah bukaan satu (pemeriksaan dalam). Saya bilang, bukaan satu tapi kog gak ngeflek ya Dok. Obgyn said, kalo anak kedua memang gak ngeflek, kalo anak pertama memang pake ngeflek. Ooo memang beda dibandingkan Arvin dulu. Dokternya bilang, kalo anak kedua tuh bukaan satu bisa lama, bisa berhari-hari, berminggu-minggu, HPL-mu juga awal Januari kan? *HPL: Hari Perkiraan Lahir* Iya sich dan saya juga tidak/belum merasakan sakit, masih bisa tidur nyenyak malam hari, dan masih enjoy kalo diajak main sama Arvin. Ya sudah, saya disuruh pulang sama dokternya, he he. Makaciii, ogah juga kalo kelamaan tidur di RS. Mending ngesot ke RS, jarak rumah dengan RS dekat sajaa. Sebelum pulang saya disuruh cek CTG (cardiotocography), semacam alat untuk mendeteksi kontraksi dan kondisi janin. Agak bertanya2 sebenernya, ngapain aku disuruh CTG, apa perlunya sich buat kondisiku sekarang, kan dah ketahuan bukaan satu dari pemeriksaan dalam. He he he. Dokter bilang, biar tahu kontraksinya palsu atau enggak. Suster bilang, nanti ibu bisa mendengar detak jantung janin ibu. Oke lah, saya coba saja. Saya berbaring terlentang di ruang bersalin selama 30 menit. Perut saya dipasangi belt dan ada suatu alat yang nempel di perut. Wow, mendengar suara detak jantung janin Hanif rasanya campur aduk. Seram, senang, was2, bingung. Pada saat perut mengencang karena kontraksi, detak jantung janin naik cepat, suaranya wes ewes ewess, kayak lari ngibrit. Aduh dek, pelan2 dongg jangan panik banget bin gelisah gituuu. Diliat hasil print CTG, bentuk grafiknya banyak yang diluar batas aman, jarak antar kontraksi bervariasi dari 8 menit sampai 12 menit. Kata Suster, iya bu ini memang kontraksi (baca: bukan palsu).

•Kamis 20 Desember 2012•
Aktifitas saya kayak biasa. Main sama Arvin masih bisa nyambung dan masih bisa bercanda. Tidak ada perubahan atau peningkatan. Malah kencang2 di perut balik kayak hari Senin, tanpa rasa tekan *maaf* di dubur. Curhat sama ibu saya by phone, seperti biasa, my mom is the best, suaranya yang selalu berintonasi cepat bersemangat membuat saya tetap tenang dan juga bersemangat. Ya aku tak siap2 packing baju, kamu tenang2 aja di rumah, menunggu sampai waktunya telah tiba (kata ibu saya). Malam harinya saya juga tetap bisa tidur nyenyak walo perut kencang2. Ini kebo atau pingsan?? Cape kali, seharian momong Arvin, sehingga *thanks God* malamnya saya bisa otomatis tepar nyenyak.

•Jumat 21 Desember 2012•
Bangun tidur saya merasa mulas2 ringan. Saya pikir karena mau BAB. Saya tunggu sampai menteb2 *halah jijay* sampai jam 9 pagi baru keluar BABnya. Nah setelah BAB kog masih mulas2. Saya belum curiga, karena mulas2nya gak disertai gangguan pencernaan macam diare berkali2. Skali lagi, ternyata beda dengan Arvin dulu. Setelah lewat Dhuhur saya baru curiga, dan melihat jam, menghitung jarak mulas, dan mulai ngrasain sakit mulas yang meningkat. Jadilah muka saya tertekuk-tekuk menahan sakit. Dah gak bisa konsen saat diajak main Arvin, duduk, berbaring, smua aktifitas dech. Saya telpon suami saya dan suami langsung cabut dari kantor jam setengah 3 sore. Habis Ashar saya sempet BAB kedua kalinya, juga tanpa diare. Kira2 sampai RS diperiksa jam 5 sore, ternyata udah bukaan tiga. Enggak ada dua jam kemudian, sekitar jam 18.53 WIB, baby Hanif lahir ke dunia, Alhamdulillah… ^_^

0

Pepes Bandeng

Tadinya pengin beli ikan patin tp telat, udah habis dibeli org laen, kata Nanang (tukang sayur) td cm kulakan setengah kilo aja. Trus saya liat ikan2 lain yg masih ada, nyantolnya ke dua ekor ikan bandeng. Sambil keinget masa2 di Makassar, ikan bandeng di daeng ikan dijual segar2 dan besar2 dengan kulit yg aduhai mengkilat segar. Ah dua ekor bandeng ini (dijual 14 rebu) akan saya olah jd pepes aja kayak masa2 di Makassar dulu, sering bgt bikin pepes bandeng.

Sejarahnya pepes bandeng yg srg saya bikin di Makassar ini bermula dari perkenalan saya dengan “embak” asisten rumah tangga tetangga komplek saya, yg aslinya Jawa Barat. Dulu pas di Jawa embak ini pernah berprofesi di daerah Anyer sbg penjual ikan bakar. Pas ikut nyicipi pepes bandeng karya dia eh kog rasa2nya cocok yaa. Katakanlah ini pepes bandeng ala Anyer, hihihi. Bumbunya gak rumit dan cara bikinnya dah dimampatkan menjadi praktis. Saya keep deh resep pepes bandeng ala embak ini sampai skrg stay di Jakarta. Heheh…

Pepes gak manteb klo gak dibungkus si hijau daun pisang. Akirnya beli daun pisang 1000 rupiah, sama Nanang hampir gak dikasi karena saya butuhnya lebih dikit lagi. Eyel2an sm Nanang eh ada yg ngedenger. “Bagi dua aja sama punya saya,” ternyata ibunya tetangga ada yg dah beli daun pisang 2000 dan menawarkan separuhnya utk saya. Asek2. Tadinya mau dibungkus total dg daun pisang eh dah dikejar2 Arvin, akirnya saya taroh di loyang yg saya alasi daun pisang. Suami saya pulang kantor tentu aja keheranan dg wujudnya yg mendadak kayak kue (karena ditaroh di loyang). “Apa ini?” Saya bilang itu pepes bandeng. Lalu suami nyomot seiris masuk mulut dan bilang, “Enak, enak…” ^_^

Pepes Bandeng

BAHAN:
Bawang merah
Bawang putih
Kemiri
Lada/merica
Ketumbar
Cabe merah (saya skip)
Garam
Gula pasir sedikit
Kecap sedikit

CARA:
– Bandeng mentah dibelah horizontal
– Duri tengahnya diambil
– Trus daging bandeng dikerok dr tulang2 besar yg ada di tengah – Tulang besar di perut dihilangkan
(Kalo saya daging bandeng juga saya kerok dari kulitnya)
– Trus kerokan daging bandeng diblender plus duri2 kecilnya, pas diblender dikasi air sedikit – Smua bumbu dihaluskan
– Daging bandeng yg udah diblender halus dicampur rata dg bumbu halus, tambahin gula pasir dan kecap – Trus dibungkus daun pisang
– Dikukus sampai matang

0

Pastel Roti Tawar

Hemmm hari Jumat persediaan makanan udah menipis ^_^ Pengin bikin snack sayuran buat Arvinza yg eggfree. Snack sayuran, supaya Arvinza mau makan sayur, apalagi brokoli yg mmg kudu disembunyikan karena Arvinza masih emoh dlm bentuk rebusan kecil. Pas liat roti tawar di kulkas jadi pengin cari resep makanan berbahan roti tawar. Nemulah Pastel Roti Tawar, hehehe. Tadinya niy resep ada egg-nya, karena Arvinza alergi telur *lagi gak boleh makan telur selama 2 bulan* maka disulaplah jd eggfree. Aku liat2 tadinya di resep aslinya egg hanya untuk melapisi luar roti tawar sebelum dibalur tepung panir dan digoreng. Puter otak, egg saya ganti dengan tepung terigu+air+sedikit gula pasir+mentega cair. Taraaaaaa…setelah jadi aku pikir wujudnya lebih mirip Risoles daripada Pastel yaa. Tapi isinya gak mirip Risoles siy, so tetep dech ini dianggap Pastel ^_^ Resep udah aku modifikasi, coz menyesuaikan jumlah bahan yg ada di kulkas yg item/jumlahnya gak banyak2 amat ^_^ atau modifikasi bahan bisa menyesuaikan dg selera masing2 dah ^_^ Rasanya gurih dengan gigitan di dalam berasa manis *bundanya Arvin ikut nyomot*

Pastel Roti Tawar

BAHAN:

Roti tawar putih 3 lembar (dihilangkan tepinya, diiris segitiga) Hati ayam 1 buah (diiris kecil2)
Wortel 1 buah (diiris dadu kecil2)
Brokoli 1 buah ukuran kecil (dicincang)
Makaroni elbow 2 sdm (saat direbus tambahin sedikit mentega spy gak lengket, matang lalu tiriskan) Tepung terigu 1 sdm
Air secukupnya
Mentega cair 1 sdm
Gula pasir secukupnya
Tepung panir secukupnya
Minyak goreng secukupnya (untuk menggoreng)

Bumbu menumis:

Bawang merah 3 buah
Bawang putih 2 buah
Daun salam 1 buah
Laos 1 cm
Gula jawa secukupnya
Garam secukupnya
Kecap secukupnya

CARA MEMBUAT :
1. Tumis hati ayam, wortel, brokoli, makaroni sampai matang
2. Isi roti tawar dengan adonan tumis, lalu dilipat berbentuk segitiga
3. Buat adonan celup: campurkan tepung terigu, air, gula pasir, mentega cair. Aduk2 sampai rata. Aku bikinnya agak kental tapi yaa bisa bikin roti tawarnya kebes rata juga siy, hihihi. Intinya siy buat melapisi roti tawar supaya tepung panirnya menempel rata ^_^ Lalu adonan celup ini jg ngebantu nglengketin pinggir roti tawar, pinggirnya ditekan2 pake jari, mirip bikin pastel itu…
4. Celupkan roti tawar yg udah diisi ke dalam adonan celup, lalu celupkan lagi dalam tepung panir sambil dibolak-balik 5. Goreng sampai matang kuning kecoklatan

0

Dua Anugrah Allah sekaligus, Pindah ke Jawa & Hamil Lagi ^_^

Saat ini usia kehamilan anak kedua saya sekitar 29-30 minggu, dengan berat janin sekitar 1,4 kilogram. What a surprise, ketika tau kalo saya hamil lagi. Gak nyangka dikasi hamil lagi secepat itu, Alhamdulillah, mengingat dikasi hamil anak pertama nunggunya cukup lama hampir 2 tahun nikah dan dengan perjuangan yang cukup menguras energi plus pikiran ^_^. And Subhanallah, kalo sesuai itungan dokter, made in Makassar, kemungkinan saya sudah mulai hamil di minggu2 trakhir stay di Makassar, yaitu minggu2 packing. Hoaaa, Subhanallah lagi, untungnya bertahan di rahim, minggu2 packing is saat saya banyak dorong2 barang, gotong2 angkat2 barang untuk dipack, dan saat saya banyak begadang alias gak tidur malam karena kudu packing cepat sebelum kontainer berangkat, plus momong-menyusui Arvin ^_^. Smoga anak ini tumbuh jadi anak yang kuat, soleh/solihah, baik hatinya, baik akhlaknya, smoga sehat kandungannya, normal kandungannya, kuat kandungannya, baby-nya organ tubuhnya lengkap, baby-nya anggota tubuhnya lengkap, warna kulitnya bagus dan enak diliat (doa ibu saya, amiiin mom!) ^_^ *this is a little picture of my fetus, sorry gak sempet discan*

1

Arvin kena Diare-Muntah2-Demam, hikshiks, Kasihannyaaa…… :-(

Apa siy penyebab diare?

Klo kisah Ayah Arvin kena diare 2x agak2 membingungkan. Pas diare pertama, keluhannya muncul setelah makan gado-gado (jajan). Lucu siy, sebagai org Nganjuk yg menu ajibnya pecel, bumbu kacang tentunya sudah jadi hal tak asing bagi perut Ayah Arvin. Tumben bereaksi ajaib dengan diare semalaman 20x. Kemungkinan kacang yg dipake udah basi kali yaa? Dokter A (dokter umum) bilang perut Ayah Arvin gak kuat kacang, so jangan makan kacang2an dulu, susu jg gak boleh, yg lemak2 jg stop dulu. Kacian dech, pecel yg tadinya ajib jd momok terbesar. Dokter A cmn kasi obat maagh+obat diare Biodial aja. Obat maagh utk mengurangi gas2 di perut, sendawanya emg guedhe2 kyk raksasa cegukan, hehe.

Dan apa saya bilang, sbg warga Nganjuk, mana tahan klo gak makan pecel! Dua minggu stlh kejadian, Ayah Arvin makan pecel lagi. Dikira anti kacangnya cmn sementara doang. Wong badan udh fit gak ada keluhan mencret2 lagi. Susu jg dimulai lagi (yg low fat). Kejadian dech diare lagi utk kedua kalinya dlm 2 minggu. Bedanya, priksa ke dokter B (dokter umum) kali ini dikasi Oralit. So Ayah Arvin gak selemas diare pertama. Tapi diare ini menular ke Arvin (20 months old). Dan serial hari2 menyedihkan dimulai, hiks.

Arvin sejak Senin (17/9) malam smpai Selasa pagi gak brenti diare dan muntah2. AyahBundanya begadang gantiin sprei, baju Arvin, baju AyahBunda bkali2 karena kena tinja+muntahan, nyebokin ke kamar mandi bolak-balik, bersih2 muntahan, dll. Stress liat Arvin nangis2 karena kesakitan dan gak nyaman.

Paginya (Selasa) Arvin saya kasi Oralit (minta obat milik ayahnya) jd agak lebih segar, diajak ke RS malah lari2 kayak udh sembuh aja. Ditimbang berat badannya turun 800gram. Menurut saya, kalo anak Anda kena diare parah segeralah pergi ke dokter supaya gak telat/gak parah penurunan berat badannya atau dehidrasinya. DSA X (dokter spesialis anak) kasi 3 obat, puyer (isinya enzim pencernaan) katanya siy bikin nafsu makan membaik. Trus antibiotik karena diagnosisnya infeksi saluran pencernaan. Trakir obat diare Lacto-B (udah umum ini yaa obat). Selama 24jam pertama gak ada makanan yg masuk. Selalu muntah, kalo gak yaa menolak (gak selera makan). But alhamdulillah, Arvin sangat menyukai air putih (kebiasaan pemberian air putih sjk MPASI), bundanya lega karena dikit2 Arvin minta minum air putih.

Setelah 24jam pertama (Selasa sore) akirnya bubur (nasi tim) bisa masuk, itu aja dikit banget. Rabu masih diwarnai diare tapi muntah udah cuman sekali sehari. Obat gak maksimal masuk coz susah banget ni anak minum obat, mulut merapat, tangan kaki nendang kemana2, pake nangis histeris pula. Rabu sore ketemu Ayah pulang kantor, kayaknya Arvin sedikit hepi, liat Ayah makan malam pke nasi kog alhamdulillah ikut2an makan nasi, sejak itu sampai hari2 berikutnya Arvin malah makan nasi 3x sehari, walo dikit2.

Masuk hari ketiga (Kamis), demamnya mulai turun. Obat tetep susah masuk dipaksa pun tetep susah, klo dapat bantuan Ayah Arvin: saya ‘nyogok’ obat, Ayah mengekang badan Arvin, jadinya horor dech! Pintu jendela saya tutup rapat2 spy tangis Arvin gak ganggu tetangga, hahaha. Sekali pakai sendok mau tp hbs itu gak mau, trus pakai sedotan gak mau juga, akirnya pakai pipet Tempra berhasil. Tapi lama2 Arvin tau jg pipet itu untuk obat, susah diakaliiii… Pipet tetep tapi obat saya campur dengan sedikit sirup Marjan rasa lemon (maaf yaa bagi yg kontra dg tindakan saya ini), eh kog selalu bisa masuk malah pipetnya disesep sama Arvin (pada akhirnya sirup Marjan lemon saya ganti dg madu asli Al-Shifa). Dasar anak susah diakali saking pinternyaaa, lama2 gak smua jenis obat bisa masuk karena tau pipet itu obat…*puter otak lagi*.

Yang paling bikin sedih bukan kepalang ketika melihat badannya mengurus+melemas dari hari ke hari. Dan melihat Arvin kesakitan tiap kali perutnya mulas mau diare. Udah gitu tiap cebok nangis2 karena duburnya luka lecet (saking seringnya kegesek tinja).

Di hari ketiga (Kamis) saya nyobain apa kata orang2 tentang daun jambu biji utk obat diare. Daun jambu biji muda tiga lembar (kata ibu saya ambil angka ganjil tiga atau lima, karena Allah menyukainya) dicuci bersih pakai air matang, trus dibecek-becek di dalam gelas+satu sdm air matang. Air sarinya yang diminumkan ke Arvin (ditambahin sirup melon Marjan atau madu). Udah 3x saya berikan ke Arvin.

Di hari keempat (Jumat), ajaib siy tapi juga membingungkan, frekuensi diare Arvin berkurang, tapi muncul keluhan lain yaitu sakit perut hebat diakhiri sendawa dan perut Arvin berbunyi keras krucuk2 dan bung2. Lho kog kayak perut kembung masuk angin aja nich???? Saya hentikan pemberian daun jambunya. Kata Ayah Arvin mungkin gak kuat sama daun jambu biji. Perut saya olesi dg balsam Transpulmin kalo rewel sakit perut. Di hari keempat ini Arvin jg tidur lbh lama, dikit2 tidur, mungkin karena frekuensi diare berkurang jadi Arvin membayar hutang tidurnya. Tapi justru lemasnya sungguh semakin memelas, kayak lg gak liat sosok Arvin Si Aktif Ceria😦

Hari kelima (Sabtu) frekuensi diare Arvin semakin sedikit. Oralit tetep saya berikan walo sedikit2 pakai pipet Tempra. Agak kawatir dg lemasnya Arvin, kami bw kontrol ke dokter lagi. Gak ketemu dokter yg dulu, gak masalah dech ketemu sm dokter lain. Yg penting anaknya bisa sehat. And malah dapat surprised second opinion. Pas nimbang berat badan, ternyata Arvin naik 300 gram. Jadi bener yaa obat enzim pencernaan yg dkasi DSA X itu memperbaiki nafsu makan? Karena memang di hari ketiga Arvin malah doyan makan nasi (lembek), bikin berat badannya bisa naik (Bunda legaaa). DSA Y said, lemasnya Arvin karena sakit perut kembung, diberilah obat sakit perut Ranivel. Kata DSA Y lanjutkan Lacto-B karena bakteri baiklah yg banyak berperan menekan bakteri patogen di saluran pencernaan. DSA Y berpendapat, jangan berikan Oralit. What?? Kata dia, Oralit itu kan dlm btk cairan kental, kalo pencernaan blm bagus, nanti cairan kental itu akan kluar membawa cairan yg lain, alias malah bkin diarenya gak mampet. Hemm setau saya Oralit berperan mengganti cairan tubuh yg hilang supaya gak dehidrasi. Untungnya Arvin mmg suka minum air putih selama diare. Sampai Sabtu malam keluhan Arvin masih sakit perut. Begitu diminumin obat sakit perut langsung kluar gas, gak cukup kentut, harus sendawa, kalo belum nyampe sendawa tetep rewel kesakitan. But Ranivel hanya saya berikan dua kali saja dan Arvin sudah membaik sakit perutnya….🙂

Minggu akirnya dapet dech tinja Arvin yg lebih padat. Belum menggumpal siy, lagi konsistensi seperti pasta aja. Hari Senin Arvin gak pup, saya pikir malah sembelit, tapi masih normal lah kalo 1-2 hari sekali pup-nya. Lemas gontai sempoyongan masih dominan sampai. Baru Senin (24/9) sore kliatan lain, Arvin sdh bisa menarik mainannya. Tapi kalo angkat box mainan masih belum kuku makanya selalu diakhiri dengan kekecewaan, nangis2 dech jadinya. Selasa kluar pup masih kayak pasta tapi lebih lengket. Well, saya harap semakin hari semakin baik….

Talking about Trauma. Arvin trauma sama kamar mandi. Tiap kali diajak ke kamar mandi nangis2, mungkin dia teringat jaman2 kesakitan cebok diare (duburnya luka lecet). Kalo nangis dan minta digendong oleh bundanya Arvin selalu triak2 “sayang”. Rupanya kata2 penghiburan saya ketika cebok diare dulu melekat di memori Arvin. Arvin jadi anak yg sensitif, dikit2 nangis, gak mau pisah sama bundanya alias selalu minta gendong, suka marah membanting mainan, dikit2 apa yg saya lakukan terlihat salah di mata dia, cengengnya minta ampun….

Rabu (26/9) sore ini alhamdulillah ada perubahan besar pd fisik Arvin. Jalannya dah bakoh gak sempoyongan lagi. Pupnya akirnya menggumpal. Pipi dan perutnya agak chubby karena makan banyak dan mau minum susu teratur walo sedikit2 (pd akhirnya minum obat gak horor lg, Lacto-B saya campur dlm susu). Nangis2nya kog yaa berkurang, bunda tinggal sholat Ashar kog anteng nonton tv. Good boy, I love you, sehat selalu, nakkk….

Diare seperti Arvin disebabkan oleh infeksi bakteri. Bisa berasal dari tangan Arvin sendiri yg masuk mulut. Bisa juga ada something wrong dlm makanan (kayak kasus Ayah Arvin). Bayangan saya, kalo kondisi gak fit melalui udara pun bakteri ini bisa menginfeksi kita. Waktu itu saya mengkhawatirkan apakah ada kemungkinan kemasukan larva cacing pita. DSA Y bilang, kalo karena cacing pita diarenya akan berulang, sedangkan Arvin kan baru sekali. Sedangkan diare yang ditunggangi virus biasanya disertai tanda2 batuk pilek. Apalagi diare ditunggangi typhus, demamnya bisa lebih parah lagi…..