Selamat Datang di Gerbang Indonesia Timur

Setelah berulang kali rescedhule tiket dan didera flu berat, akhirnya saya berangkat ke ujung timur Indonesia pada tanggal 18 Jan 2009, mundur 11 hari dari rencana semula. Waktu itu udah beli tiket Yogyakarta-Jayapura untuk berangkat tanggal 7 Jan 2009 tapi karena suami saya ada kerjaaan mendadak maka di-rescedhule menjadi tanggal 12 Jan 2009. Ternyata kerjaan dia belum kelar lalu tiket di-canceled dan di-refund. Dengan maskapai yang sama dengan sebelumnya (Garuda) kita gak dapat tiket, sehingga beli lagi tiket dari maskapai Merpati untuk tanggal 18 Jan 2009. Kita dijadwalkan take off jam 6 pagi. Buru-buru bangun pagi, pas nyampe di bandara maskapai tersebut men-delayed jadwal keberangkatan kami menjadi keesokan harinya. Suami saya keberatan karena harus masuk kerja dan ada dinas ke Makassar yang sudah terjadwal. Setelah lama bernegosiasi, akhirnya Merpati mau menukar dengan tiket perjalanan ke Makassar dari maskapai lain, yaitu Garuda. Dan tiket Merpati dari Makassar ke Jayapura bisa di-canceled plus di-refund saat itu juga.

09.20 WIB  : berangkat dari Adisucipto Yogyakarta
10.25 WIB  : mendarat di Soekarno-Hatta Jakarta
transit di Jakarta sekitar dua jam, jadwal berangkat ke Makassar jam 12.45 WIB
12.45 WIB  : gak jadi berangkat, pesawat delayed lagi sekitar 20 menit
13.11 WIB  : berangkat ke Makassar dari Jakarta
16.25 WITA: mendarat di Sultan Hasanuddin Makassar

Sepanjang jalan menuju Makassar sesekali saya masih meyakinkan diri saya, bener gak sih saya sudah meninggalkan tanah Jawa. Rasanya gak percaya karena seumur hidup saya gak pernah pergi sejauh ini, pergi meninggalkan tanah Jawa tempat kelahiran saya. Rasa haru menyergap, tak terasa air mata meleleh di pipi saya. Pikiran saya jadi mundur ke belakang, menapaki jalan rumah yang saya lewati setiap hari sepanjang hidup saya. Melihat senyum orang-orang yang mencintai saya. Menapaki kenangan-kenangan. Banyak sekali kenangan hidup tak tergantikan bersama keluarga, sahabat, dan teman yang telah saya lewati di tanah Jawa. Saya akan selalu merindukan tanah Jawa.

Laut, Laut lagi, dan Laut lagi. Kadang biru terang dan kadang biru gelap, membentang tak kelihatan ujungnya. Lama kelamaan laut itu terlihat sedikit berwarna hijau. Kemudian tampak bulatan-bulatan kecil tak beraturan berwarna hijau yang berserakan. Semakin dekat, bulatan itu terlihat menepi pada sebuah anjungan luas yang lebih hijau lagi, Daratan Sulawesi. Di ujung tepi daratan itu pesawat mencoba mendekat, membuat sebuah lingkaran luar yang lebar, dan "berpapasan" dengan pesawat lain. Di bawah, air laut terpecah, beriak-riak keputihan, mengekor (bak ekor komet) pada Kapal besar dan kecil yang juga bergerak mendekat dan menepi pada daratan itu.   

Ketika mendarat saya disambut dengan suasana Bandara Sultan Hasanuddin yang masih baru. Atapnya berkubah-kubah dan didominasi warna silver. Bentuk atap ini mengingatkan saya pada atap stadion olah raga. Pesawat harus berjalan cukup jauh dari landasan menuju pintu kedatangan penumpang. Melewati garasi pesawat tempur, mengitari depo Pertamina, lapangan dan bangunan lainnya. Secara keseluruhan bandara ini terkesan luas dan banyak hamparan hijau. Sayangnya, mungkin karena masih baru, saya melihat belum banyak toko/rumah makan/restoran cepat saji yang tersedia di sini.

Keluar dari bandara dan menyimak cerita driver-teman suami saya yang penduduk asli, barulah terasa suasana Makassar. Sekilas ada kemiripan ketika orang Batak dan orang Makassar sedang berbicara. Jalan dari arah bandara masih bernuansa tepi laut, kampung-kampung nelayan berada di batas antara jalan raya dan tepi laut. Kapal-kapalnya merapat di salah satu sisi kampung, dicat warna warni. Kemudian mobil mulai masuk ke daerah Sumba Opu. Area ini pusat pertokoan perhiasan emas. Ada banyak banget toko emas berjajar-jajar, satu toko bertetanggaan dengan toko yang lain.

Bandara Sultan Hasanuddin Makassar dari jauh

Begitu turun dari mobil, angin pant ai menghembus. Bau khas laut tercium. Tepat di depan hotel terdapat tempat wisata Pantai Losari, sebuah pantai tanpa "T", hehehehe… Pantai ini ramai di sore hari. Kayaknya penduduk lokal memanfaatkannya sebagai tempat melepas lelah di sore hari dan tempat nongkrong sampai malam. Tempat wisata ini menjorok ke laut, pantai direlokasi menjadi sebuah daratan dan dibangun beton di situ. Rencananya mau diperluas ke utara supaya artis bisa manggung di pinggir Pantai Losari. Ada banyak pedagang asongan di sini. Satu hal yang terlihat, ada sekelompok anak kecil berkeliaran yang suka meminta-minta. Jika kita berbelas kasih memberi sekeping receh pada satu anak, maka anak-anak yang lain akan ikut meminta. Mereka bisa menguntit sambil meminta-minta kita sampai semua anak kecil mendapatkan uang receh. Kayaknya gak baik juga ya jika hal ini menjadi kebiasaan… 

Pantai Losari dari kamar hotel

Di sekitar Losari banyak berjajar restoran dan hotel. Salah satu menu yang ingin saya cicipi yaitu masakan ikan. Saya dan suami menuju ke sebuah restoran di sebelah timur RS Stella Maris, bernama Restoran Khayangan. Restoran ini tak begitu besar. Karyawannya lumayan ramah dan memakai seragam merah. Di pintu masuk restoran sudah tersedia box busa putih berisi ikan yang diganjal es batu. Tiap box memiliki jenis ikan berbeda, ada ikan cumi-cumi, salmon, kepiting, pindang… Pengunjung dipersilakan memilih sendiri jenis dan ukuran ikan. Trus minta untuk dimasak gimana, misalnya goreng, bakar atau tumis. Meja makannya panjang dan lebar, cocok untuk parti besar atau rombongan keluarga.

Kami memesan ikan kakap bakar. Dalam bayangan saya, ikan yang sudah dibakar akan berwarna coklat. Tapi itu kan di Jogja, dimana ikan bakar biasanya dibumbui kecap saat dipanggang. Ikan bakar ini berwarna putih kekuningan. Rasa daging ikannya gurih, dibumbui air garam+bawang. Sambal yang berjodoh ada empat macam, yaitu sambal mangga muda, sambal terasi, sambal tomat, dan sambal cabe merah. Aroma sambalnya sudah sedap, rasa pedasnya juga joss betul sampai tenggorokan saya gatal. Hehe, dasar orang Jogja suka rasa manis. Untuk menetralisir kepedasan, saya makan irisan mangga muda yang segar dan kecut.

Ikan Kakap Bakar ala Khayangan

Selain ikan, saya juga memesan otak-otak. Rasa ikannya tengiri kali ya? Bumbu kacangnya lembut dan enak, tak terlalu manis atau asin.

Otak-otak

Well, makan malam udah selesai. Kepala saya masih berputar, meraba-raba, sekarang jam berapa ya? Satu jam lebih cepat membuat saya pingin istirahat lebih awal. Jam handphone di-set dulu biar gak bangun kesiangan, hehehe. Selamat tidur Makassar, sampai jumpa besok pagi…

2 thoughts on “Selamat Datang di Gerbang Indonesia Timur

  1. Ping-balik: Pantai Losari « PitaPink

  2. MAMPIR GAN/SIS KE PANTAI SANTOLO SAYANGHEULANG PAMEUNGPEUK GARUT..PENGINAPAN KARANGLAUT…VIEW LANGSUNG PANTAI HP 082129705000..KANG DANI TEA…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s