Selamat Datang di Jayapura, Ujung Timur Indonesia

Ngantuk banget, pas harus pergi ke Bandara Sultan Hasanuddin jam 11 malam. Kog ya take off Garuda jam 01.10 pagi, kenapa gak ada yang berangkat setelah fajar. Mata saya udah setengah watt, untungnya masih bisa ngamati detil-detil bangunan bandara yang digagas oleh Jusuf Kalla ini.

23012009910 23012009913

Suasana di bagian kedatangan

23012009919 - Copy23012009916

Suasana di Lounge (sambil makan kacang ijo)

  23012009922

Di ruang tunggu..

Dua jam enam menit pesawat mengudara. Gelap ah, di bawah entah berupa apa, laut kelam atau hutan lebat. Tidur juga gak jenak, kaki saya pegal-pegal. Pesawat transit selama 30 menit di Bandara Frans Kaisiepo, Biak. Saya turun untuk melemaskan kaki. Akh udah nyampe di tanah Papua nih. Bandaranya kecil, kebanyakan pesawat perintis (kayak Trivia Air) yang parkir di landasan.

Ruang tunggu Bandara Frans Kaisiepo BiakPesawat perintis Trivia Air

Walau hanya bandara kecil tapi cukup penting. Sepenting rasa kebelet pipis saya, hahaha. Bisa sih pipis di pesawat tapi saya terlanjur masuk ke dalam bandara. Toilet menjadi most wanted. Letak toilet pria dan wanita berjauhan, toilet pria berada dekat musholla. Ketika menemukan toilet wanita, kebelet saya jadi ilang. Berdiri di depan pintu toilet berganti dengan rasa mual mau muntah. Ya ampun, pesing banget. Ada yang suka pipis gak diguyur. Dan WC-nya tampak tak terawat, gak rutin dibersihkan. Hmm, sayang sekali…

Di ruang tunggu ada toko souvenir khas Papua. Ada gantungan kunci, hiasan dinding, patung Asmat, tifa mungil, dll. Trus ada tas dari anyaman pandan, yang sering saya temukan di Pasar Beringhardjo, Jogja. Ibu-ibu yang jaga di toko itu kayaknya keturunan Jawa. Sayangnya, sebelum sempat ngambil gambar, saya harus boarding…

55 menit perjalanan Biak menuju Jayapura, saya habiskan buat tiduran. Langit semakin terang dan pemandangan alam Papua semakin jelas. Apalagi pas mau ndarat, indah banget. Langit, laut, gunung, hutan, hamparan rumput menjadi lukisan Tuhan. Akhirnya nyampe juga di ujung timur Indonesia, tanggal 23 Jan 2009 jam 06.50 WIT.

Menginjakkan kaki di Bumi Papua

Bandara Sentani Jayapura

Setidaknya di Bandara Sentani Jayapura saya bisa melepaskan dua buah “hasrat” dengan sukses di toilet. Bersih plus terawat walaupun tampak tua. Ruang pengambilan bagasi sempit dan agak lama menunggu bagasi turun. Tidak ada troley sama sekali. Suami saya mengangkut satu persatu koper kami keluar ruangan. Ada sih jasa kuli angkut koper yang bertebaran di dalam ruangan. Seperti di Bandara Sultan Hasanuddin, mereka berseragam kuning.

Pinggir Danau SentaniWaktu yang harus ditempuh dari Bandara Sentani menuju kawasan Base-G sekitar satu jam. Mobil melaju santai, melewati jalan Jayapura yang naik turun dan berkelok-kelok. Melewati Danau Sentani, danau yang luas, lebar dan tenang. Kayaknya dalam ya, jadi inget kalo saya gak bisa berenang.

“Bagaimana menurutmu Jayapura?” tanya suami saya. “Lumayan. Baru liat luarnya, gak tau ntar dalamnya gimana…,” kata saya. Hehehe. Mobil berbelok ke jalan sempit, trus turun, nglewati rumah milik penduduk asli. “Lho, mo kemana? kog mblusuk? nglewati rumah penduduk asli?” tanya saya. “Sudah, gak usah melotot. Gak usah dipelototin,” kata suami saya. Bukan mblusuk tapi tersembunyi dibalik gundukan tanah (bukit maksud-e) plus di bawah sono (pinggir laut). 

Base-G sebuah kecamatan (iya gak sih?) di kawasan Tanjung Ria. Di salah satu pinggir Teluk Yotefa-nya ada sekelompok rumah yang mencoba bertahan hidup. Kalo melongok keluar jendela depan rumah, langsung nampak laut yang menjorok ke darat. Kadang kapal melintas, memperdengarkan peluitnya. Tuut! Tuut! Di belakang rumah ditumbuhi banyak pohon, tempat suara burung liar menyanyi indah (entah burung apa, gak keliatan, baru denger suaranya kali ini).

Hmmm, lain banget dengan di Jogja. Saya mendengar deru motor anak kost, tangis ponakan saya, tetangga lagi ngobrol, tamu datang silih berganti, ibu memasak, bapak sibuk menelepon, sodara mampir, temen punya hajatan, dll. Mo maen kemana aja deket, tinggal tancap gas. Hiikss, sepi sekali di sini…

2 thoughts on “Selamat Datang di Jayapura, Ujung Timur Indonesia

  1. Ping-balik: Pasar Hamadi « PitaPink

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s