Mancing-Mancing di Koya

Sepulang dari Skouw kita nyari tempat makan terdekat. Koya merupakan daerah transmigran. Rumah mereka terbuat dari papan dengan atap seng. Sebagian sudah dari batako dan beratap genting fiber.

Penduduk transmigran membuka banyak tempat pemancingan. Tanah dikeruk dengan ekskavator menjadi kolam besar. Gubuk kecil dibangun berjajar di sisi kolam. Kolam yang lain gak ada gubuknya, khusus buat mancing aja.

Tempat pemancingan yang kita pilih bernama Aji Kencana. Parkirnya luas, kolamnya banyak dan besar. Nyampe sana kita memesan makanan. Jauh-jauh ke Jayapura, kita cuma dapat satu pilihan, ikan mujair. Satu setengah kilo ikan mujair dapat delapan ekor. Menu lain yaitu ayam tapi harus ayam utuh, trus ada ca kangkung. Kita memesan satu setengah kilo ikan mujair digoreng, nasi enam porsi, sambal, lalapan, dan air putih berenam. Total harganya seratus lima puluh lima dua ribu rupiah.

Sambil nunggu ikan selesai dimasak, apa lagi kalo gak mancing. Yang gak hobi mancing duduk nongkrong di gubuk. Angin semilir menghembus, menggoyang daun pohon kelapa kuning. Kog lama ya, udah satu jam kita nunggu. Lapar dan kantuk tak tertahankan.

 

mancing di Koya

Sedangkan tim pemancing kita juga hopeless. Ikannya gak ada yang tertarik. Hingga pada detik terakhir sebelum makan, seekor ikan kecil nancap di kail. “Aku tahu, gak usah jauh-jauh nglemparnya, di dekat permukaan aja..,” kata Budi. Setelah makan tambah semangat, ikan-ikan kecil dan besar mulai tertangkap. Ikan dilepas lagi karena gak ada yang tertarik membawa pulang.

Pulang dari Koya, kita melewati perkampungan transmigran Bugis. Terletak di antara Koya dan Nafri. Di sini berjajar penjual buah di pinggir jalan. Harga buah lebih murah daripada di Jayapura. Pisang Raja satu unting dan pepaya satu kilo harganya masing-masing lima ribu rupiah, di Jayapura bisa tujuh sampai sepuluh ribu rupiah. “Gak bisa kalo mo nawar, coba belanja di pasar. Beli bawang merah harus satu kilo, gak boleh seperempat. Mereka hari itu gak terjual satu kilo, dan gak dapat duit (dari seperempat kilo)…,” kata Bambang. Waks, cape deh…

penjual buah di kampung bugis

Perkampungan Nafri mulai terlihat. Daerah Nafri terkenal sering terjadi perkelahian antar suku. Bentuk rumah mereka mirip di kampung transmigran. Ada yang rumah panggung. Pemilik rumah melepas babi peliharaannya. Mirip babi hutan hitam, tapi gak punya sungut. Babi ini bermain riang di halaman bersama babi yang lain layaknya anjing mereka. Nah kalo anjing nih lebih riang, mereka sering ngluyur ke jalan raya. Dua kali mobil kami hampir menabrak mati anjing. “Satu anjing oleh pemiliknya dihargai lima juta rupiah. Kalo betina lebih mahal. Belum lagi harga tanggungannya, lagi menyusui, anak anjing yang ditinggal, trus dibandingin anjing tetangganya, etc, etc, etc…,” kata Heri. Wah, anjing ini duit banget bagi pemiliknya ya…

Tak terasa hari tlah sore. Perjalanan bolak-balik Jayapura dan Koya udah hampir selesai. Saya tertidur di seperempat jalan terakhir. Jam setengah enam sore kita nyampe rumah. Bapak-bapak menghela nafas panjang, tanda liburan tlah usai, esok hari harus ngantor lagi. “Atau gak usah ngantor aja yuk? Kita jalan lagi…,” kata suami saya. Ayuukk…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s