Tamasya ke Luar Negeri Tanpa Paspor

Pagi tadi kita tamasya rame-rame. Barengan ama trio tetangga sebelah rumah. Rencana dibikin mendadak sih, sempat hampir gak jadi. Tapi saya udah antusias dari kemarin pas ditawari ngliat daerah perbatasan RI dan PNG, daerah Skouw.

Berangkat jam setengah 11 siang dari Jayapura, rombongan terdiri dari 6 orang termasuk driver. Jalanan yang dilalui naik turun, berkelok, kalo gak pantai ya hutan. Indah banget pemandangannya.

Semakin mendekati daerah perbatasan, cuma ada hutan melulu. Saya terkantuk-kantuk, diayun-ayun gerakan mobil. Jalan menuju ke perbatasan masih bagus dan mulus. Masih baru karena SBY berkunjung belum lama ini.

Pas melintas daerah Woroagi ada sebuah jembatan besar. Di bawahnya mengalir sungai, entah sungai apa tapi cukup besar, dan dari tadi saya baru menemukan ini. Setelah sungai ada pos penjagaan tentara RI. Katanya, di seberang sungai itu banyak markas OPM. Gak keliatan sih karena hutan lebat.

Sampai di Skouw jam 12 siang. Mobil berhenti di pos perbatasan yang dijaga tentara RI. Permisi, mau maen ke perbatasan, Pak… Driver kita meninggalkan KTP di situ. Semua pengunjung gak boleh pakai handycam atau bikin video. Untung boleh bawa HP karena saya berniat motret pake kamera HP. Lho, di HP kan ada media videonya, bisa dong kalo bikin video! Hehehehe. Berarti penjagaannya kurang ketat ya…

Pemeriksaan kedua ada di pos border RI yang dijaga polisi. Sebenarnya kita gak boleh bawa mobil lebih jauh dari portal pos border. Driver kami yang melobi. Kata dia, harus mbayar pake rokok. Satu bungkus rokok (Malboro) di Papua tuh harganya sekitar dua puluh ribu rupiah.

pos border RI di Skouw

Mobil berhenti di depan gapura selamat datang PNG. Suasananya gak jauh beda ama Papua tuh. Cuma benderanya aja yang beda. Gapuranya juga ada hiasan tifa dan pahatan patung. Pada bagian tiang, ada plakat-plakat kecil dengan warna hitam, merah, hijau, kuning. Warna khas rasta ya?

gapura Welcome to PNG

plakat di tiang

Masuk ke dalam gapura kita disambut tulisan AIDS. Gedenya mantap tapi yang menarik adalah bahasanya. Gak tau artinya, ada yang bisa Bahasa Nasional PNG gak? Hanya kata “kondom” yang saya ketahui maksudnya. Hehehe. Satu lagi tulisan di papan kuning. Kalo gak salah artinya : Jagalah Kebersihan Area, Dilarang Buang Sampah, Dilarang Buang Ludah Kinang.

papan AIDS di PNG

papan kuning

 

Di sekitar situ ada pedagang dari PNG, menjual souvenir : mug, pedang, corned beef, handuk bergambar bendera PNG, kain bergambar peta Papua dan PNG, tas motif rasta. Trus ada penjual makanan : pisang bakar, sosis bakar, unggas bakar. Dipanggang di atas tungku berbahan bakar kayu.

souvenir PNG

penjual makanan bakar

Lebih masuk lagi terlihat pemandangan indah. Wilayah PNG mulai dari pantai Pasifik Selatan, resort, jalan raya, bukit, hutan. Kebetulan hari ini tidak banyak penduduk yang melintasi perbatasan karena ada keributan antar penduduknya. Biasanya mereka ramai ke Market Point Indonesia, dekat pos tentara. Orang PNG bisa beli perkakas rumah tangga, baju, payung, dll, di tempat itu.

Samudra Pasifik Selatan di PNG

Pada bagian utara gapura, ada sebuah mercusuar. Udah ditawari naik sama penjaganya, tapi malas ah cape. Kata suami saya, cocok untuk menguruskan badan. Hahaha.

Mercusuar di PNG

Panas banget dan perut mulai lapar. Kita mo pulang aja, kembali ke negeri tercinta Indonesia. Seperti yang tertulis di pos tentara : “NKRI Harga Mati”, akhirnya kita kembali ke pangkuan ibu pertiwi…  gapura Welcome to Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s