Tante Loi

Orang Papua yang paling dekat dengan saya bernama Tante Loi. Wanita berusia 60 tahun ini masih terlihat muda. Kesannya berusia 40 tahunan, mungkin karena dia energik dan giat bekerja. Badannya tinggi besar dan gemuk. Rambutnya sebagian telah memutih.

“Saya lahir di Sorong tahun 1948, pas di sana lagi dibangun kilang pengeboran minyak. Sekarang, saya kerja dengan orang ‘minyak’. Mungkin karena 1948 itu saya jadi merasa dekat dengan lingkungan sini,” cerita Tante Loi.

Tante Loi

Tante Loi sudah bekerja selama 7 tahun di rumah dinas ini, gonta-ganti tuan rumah, dari SE ke SE. Dia tidak menikah namun memiliki anak angkat lelaki yang sekarang sudah SMP kelas satu. Anaknya kebetulan hari ini lagi sakit malaria tropika. Rumah mereka di perkampungan nelayan di sekitar Jl. Raya Tanjung Ria, Base-G. Cukup dekat dengan komplek sehingga dia kerap jalan kaki jika berangkat kerja.

Setiap hari dia datang ke rumah sekitar jam 8 pagi dan pulang antara jam 3-4 sore. Sabtu dan Minggu, Tante Loi minta ijin tidak masuk. Dia beribadah ke gereja dan membantu urusan rumah tangga gereja. Kalo suami saya dinas keluar Jayapura, Tante Loi saya minta untuk menginap di rumah. “Tak mengapa, Ibu. Sebelumnya dengan keluarga Pak Denik saya juga begitu. Kasihan juga kalo Ibu sendirian,” katanya.

Tante Loi tidak bisa memasak. Dia pernah memetik daun pepaya di belakang rumah untuk dibawa pulang. “Saya mau memasaknya, Bu,” kata Tante Loi. Mungkin perbedaan budaya yang menyebabkan cara memasak, mengolah bumbu, dan menciptakan cita rasa menjadi berbeda pula. Mau mengajarinya? Saya belum berniat tuh, hehehe..

Waktu itu ada pekerja datang mo masang antena. Saya lagi tertidur di kamar. Knock! Knock! Pintu kamar diketuk oleh Tante, “Maaf, Ibu, mengganggu, membangunkan Ibu yang lagi tidur. Ibu terpaksa saya bangunkan karena ada yang mo masang antena.” Saya kaget bukan karena dibangunkan tapi karena Tante Loi telah berlaku dengan sopan santun.

Suatu ketika Tante Loi menemukan uang kertas berwarna biru di saku celana suami saya. “Saya terlanjur merendam celana itu, Bu, jadi basah,” ceritanya. Lalu dia menyerahkan uang itu kepada saya. Lain waktu dia menemukan lagi saat menyetrika. Karena tak ada orang di rumah, Tante Loi meletakkannya di meja makan. Baru keesokan harinya dia bercerita tentang temuannya itu.

dua kucing pengikut Tante Loi

Ada dua kucing yang ngikut kemana aja Tante Loi pergi. Kalo ada sisa makanan, kucing-kucing ini yang dapat jatah. Suatu siang saya mengajak makan Tante Loi. Porsi makan itu dia bagi dua, separuh buat kucing, separuh lagi dimakan sendiri. Tak heran jika kucing-kucing ini selalu duduk manis, gak nyolong atau ngacak-acak maeman dari rumah..Puss, Meoong..

Tante Loi punya teman bernama Tante Doli. Kalo lagi ngrendam cucian kadang mereka ngobrol. Kebetulan Tante Doli kerja di rumah trio tetangga sebelah. “Kalo Tante Doli bekerja di dua tempat, dengan rumah Nomer 2 sana. Saya tidak, sudah tidak kuat lagi, sudah tua,” ujarnya. Keluarga kami adalah yang terakhir, katanya dia akan berhenti bekerja karena usia lanjut.

Wah, kenapa harus berhenti kerja? Tante Loi terlihat masih kuat, sehat dan segar. Daripada tak ada kegiatan mending kerja buat seneng-seneng aja. Lagi pula Tante Loi masih punya anak lelaki yang harus disekolahkan. Entah apa alasan sebenarnya, tapi siapa tahu di masa mendatang dia mengubah pikirannya, tetep mau deket ma lingkungan komplek ini…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s