Benteng MacArthur

Setelah dari Warung Makan Muze, kita berangkat ke Benteng MacArthur. Belokan ke arah Ifar Gunung tak jauh dari Waena. Menarik sekali melihat peninggalan Perang Dunia II. Sekarang komplek benteng itu menjadi tempat pendidikan dan latihan tentara AD.

Jalanan ke arah gerbang tampak lengang. Sesekali berpapasan satu sepeda motor atau satu mobil. Katanya, kalo malam kadang melintas tentara Amerika di sekitar situ. Melewati gerbang dan dengan mantap memberi hormat kepada tentara AD. Hormat, Grak!! Tentu saja mereka itu tentara gadungan. Hantuu..!

Di gerbang dijaga tentara AD. Satu orang berdiri tegak, lengkap dengan senapan, di dekat portal. Pos penjagaan ada dua, diluar dan di dalam gerbang. Masing-masing dijaga dua orang tentara AD. Di pos sebelum gerbang, Eko meninggalkan KTP.

Setelah masuk gerbang, terlihat komplek perumahan tentara. Ada yang rumah dinas, kantor, dan barak tentara. Barak tentara Amerika jaman dulu masih ada yang tersisa. Bentuknya kayak drum seng. Sisa perang lainnya berupa senjata dan amunisi tapi sekarang udah dipindah.

Menara Armageddon

Masjid Nurul Iman

Karena pingin sholat dhuhur, kita berhenti di sebuah Menara Armageddon alias Masjid Nurul Iman. Masjidnya besar dan warna-warni. Di sisi samping ada sekat yang membatasi ruang untuk mengaji. Mungkin masjid ini rame di sore hari untuk kegiatan bersama.

Tahun 1944 Jenderal Douglas MacArthur bersama pasukannya mendarat di Papua. Landasan Bandara Sentani dahulu merupakan tempat pendaratan pesawat tempur mereka. Dari puncak benteng, landasan itu dan seluruh area Sentani terlihat. Cocok banget kalo MacArthur membangun markasnya di Ifar Gunung. 

kantor MacArthur tahun 1944

Bekas kantor MacArthur dibangun tugu. Dari puncak area ini, pemandangan indah sekali, bikin kepincut. Pantesan, tentara Jepang gak klewatan mampir ke tanah Papua. Danau Sentani tetep aja kliatan gede, mana ujungnya, gak nemu..harus mengitarinya kali ya.. 

tugu MacArthur

mejeng bareng

Di samping tugu MacArthur ada sebuah bangunan kecil. Seluruh ruangan digunakan untuk memajang foto bersejarah. Di salah satu sisi dinding ditempel pula profil Papua. Saat itu ada seorang lelaki Papua yang menjaga ruangan. Tangannya belepotan cat hitam. Rupanya sekitar tugu MacArthur sedang dicat ulang. Beruntung dong, pas kita datang kondisinya tambah cantik..

ruang foto bersejarah

betah banget, gak mau beranjak dari sini..

Ada sebuah dataran mungil diluar pagar area tugu. Dari sinilah kita bisa melihat lebih jelas pemandangan Danau Sentani, bandara, dan rumah sekitarnya. Puas-puasin deh ambil gambar. Dan rasanya gak puas kalo cuma sebentar. Walau angin bertiup kencang dan badan pegal-pegal, telah terobati dengan panorama itu. Hmm, kalo maen ke MacArthur paling pas memang saat pagi atau sore hari, dan cuaca lagi cerah ya..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s