Seperdelapan Kota Palu

Bangun pagi di kota Palu, saya disodori nasi kuning oleh suami. Nasi KuningNasinya gurih dan lengket, santannya banyak. Sambal terasi berwarna hitam dibungkus terpisah, rasanya enak, pedas campur manis.

Nasi kuning di sini punya tiga macam ayam sebagai lauknya. Ada ayam pedas, berwarna merah kayak merahnya sosis. Trus ayam kari, rasanya gurih, berwarna kuning cerah. Dua-duanya potongan ayam. Sedangkan ayam kecap manis berupa suwiran daging ayam. Lauk lainnya berupa satu buah telur ayam.

Hmm, kenyang banget. Perut dah dicaz untuk menghabiskan waktu terakhir di Palu. Jam 10 pagi saya dijemput mbak Rini untuk mengitari kota Palu. Seberapa jauh ya berputar kota Palu yang mungil..

Kita mampir di Bakery & Cafetaria Golden. “Saya mo kasi liat Roti Kepang, ini rotinya Palu,” kata mbak Rini. Tokonya terletak di Jl. St. Hasanudin No.53, belakangnya Plaza Palu. Hmm, rotinya panjang dan empuk..

Masjid Al Khairaat

Pas saya pingin tahu masjid besar di Palu, kebetulan kita lewat masjid di sebuah pertigaan. Bukan masjid besar sih, tapi Masjid Al Khairaat adalah masjid tertua di Palu. Letaknya di Jl. Sis Al Jufri No.40. Dulu Al Jufri merupakan orang pertama yang menyiarkan Islam di Palu.

Kata mas Didin, Palu artinya Gayung. Menurut legenda, ada raksasa yang suka mandi pake gayung di danau di atas gunung. Air cipratan mandinya mengalir ke bawah, menjadi sungai yang membelah kota. Maka kota ini disebut Palu.

Sungai di tengah kota Palu ada empat. Di atasnya dibangung jembatan. Masing-masing dinamai sesuai nomor urut pembuatan jembatan. Ada jembatan Satu, Dua, Tiga, Empat. Jembatan Empat berada dekat Silae. Warnanya kuning, bentuknya kayak jembatan di Sungai Barito.

Suku yang utama berdiam di Palu adalah Suku Kaili. Mereka berbicara pake dialek yang mirip orang Manado. Selain Kaili ada pula suku Bugis, Makassar, dan transmigran lainnya.

Saya agak lupa, suku apa nih yang ada di gunung, yang suka nanam Bawang. Tanah dan iklim di gunung menyebabkan bawang di Palu khas sekali. Warnanya merah agak putih. Rasanya enak, gurih, krispi.. Belum pernah saya mam Bawang kayak gini di Jawa.

Toko Mustika

tokonya rumah panggung

Bawang Goreng khas Palu, salah satunya dijual di Toko Mustika di Jl. S. Lambangan No.5. Sebuah industri rumah tangga di dalam rumah panggung. Saya dan mbak Rini naik ke lantai dua. Lantai satunya khusus dapur, tempat mengupas, mengiris, dan menggoreng bawang.

Bawang Goreng

Selain itu, bisa dibeli di Toko Makmur Jaya. Terletak di Jl. Basuki Rahmat No. 94. Namanya Bawang Goreng Cap Maleo. Di toko ini, bawang goreng dibungkus dalam kantong plastik rapat. Lalu dikemas dalam box plastik mika. Terakhir, dimasukkan ke tas kertas. Trus ditenteng-tenteng dibawa pulang..

Bawang goreng bisa tahan lama. Tiga bulan juga awet. Bahkan Cap Maleo ada tulisan exp date yaitu Desember 2009. Tapi kalo udah dibuka, sebaiknya disimpan dalam wadah rapat. Toples bertutup rapat atau kedap udara. Selain ditaburkan bersama masakan, bawang juga enak kalo cuma digado. Sambil nonton TV nyamil Bawang..Krezz..

mbak Rini membelokkan mobil ke Maestro Pizza. Selain pizza dan pasta, ada Sop Buntut Tanpa Tulang. Nasi untuk sop dibentuk gunungan dengan daun pisang. Buntut daging sapi dipotong-potong dadu. Kuah sopnya berwarna hitam bercampur dengan potongan tomat, kubis, loncang. Trus krupuknya pake Emping.

Sop Buntut Tanpa Tulang

 

ini pizza ala Maestro di Paluspaghetti ala Maestro

Suasana restoran nyaman dan bersih. Pas jam makan siang, pengunjung mulai rame berdatangan. Kebanyakan orang kantoran.

Kayaknya cuma sampai di sini saya putar-putar Palu. Suami udah nelponin, kog saya gak nongol-nongol di Silae. Hehe.. Jam 1 siang saya harus berangkat ke bandara, pulang ke Makassar.. Makasih, mbak Rini..

One thought on “Seperdelapan Kota Palu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s